Elektabilitas Jokowi Unggul 22 Persen: Keterpilihan Prabowo Naik 2,6 Persen

Elektabilitas capres-cawapres nomor urut 1, Joko Widodo-Ma'ruf Amin, masih unggul 20 persen

Elektabilitas Jokowi Unggul 22 Persen: Keterpilihan Prabowo Naik 2,6 Persen
Jokowi Prabowo 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTAElektabilitas capres-cawapres nomor urut 1, Joko Widodo-Ma'ruf Amin, masih unggul 20 persen di atas capres-cawapres nomor urut 2, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Namun, angka elektabilitas kedua pasang relatif tak bergerak signifikan alias stagnan jika dibandingkan elektabilitas mereka sebelum masa kampanye dua bulan lalu.

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA merilis hasil survei elektabilitas pasca-dua bulan masa kampanye Pilpres 2019, di kantornya, Jakarta Timur, Kamis (6/12/2018).

Hasil survei terbaru dari LSI Denny JA menunjukan elektabilitas Jokowi-Ma'ruf pada November 2018 sebesar 53,2 persen atau unggul 22 persen dari pasangan Prabowo-Sandiaga di angka 31,2 persen. Sementara itu, ada 15,6 persen responden tidak menjawab.

Meskipun masih unggul 22 persen, suara Jokowi-Ma’ruf Amin mengalami penurunan dari bulan sebelumnya yaitu 4,5 persen sementara suara Prabowo-Sandiaga mengalami kenaikan 2,6 persen. Sementara itu, suara yang tidak menjawab juga mengalami peningkatan 1,9 persen.

Peneliti senior LSI Denny JA, Rully Akbar mengatakan, dengan selisih suara masih 22 persen, bisa dikatakan tidak ada perubahan signifikan dari elektabilitas kedua paslon jika dibandingkan hasil survei dua bulan lalu. Hal itu terjadi karena kedua kubu terlalu sibuk memainkan perang isu. Sementara, kampanye tentang program visi dan misi masih diabaikan.

“Pembicaraan di media sosial dan media konvensional ternyata dikuasai oleh perang isu yang sensasional saja, namun terbukti tak merubah secara signifikan elektabilitas kedua kubu,” ujar Rully.
Menurutnya, suara militan di masing-masing kubu yang mencapai 20 sampai 30 persen membuat elektabilitas keduanya tak bisa digoyang dengan isu yang remeh-temeh.

Oleh karena itu, ia menyarankan agar kedua belah paslon untuk menyampaikan visi dan misi melalui program-program konkret untuk merebut suara paslon lawan maupun swing-voters.

“Kalau sudah masuk ranah program, maka masyarakat bisa melihat diferensiasi antara kedua paslon. Jokowi diuntungkan karena sedang menjabat sebagai presiden sehingga bisa menunjukkan prestasinya,” ujar Rully.

“Kemudian Prabowo bisa mencari alternatif lain dari kebijakan-kebijakan yang sudah ditelurkan Jokowi dan yang lebih menarik serta dirasa masyarakat tepat untuk memecahkan suatu persoalan,” imbuhnya.

Halaman
12
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved