Ini Isi Surat Adven Uskup Keuskupan Manado Tahun 2018

Uskup Keuskupan Manado, Mgr Benedictus Estephanus Rolly Untu mengeluarkan Surat Adven Uskup Keuskupan Manado tahun 2018.

Ini Isi Surat Adven Uskup Keuskupan Manado Tahun 2018
Istimewa
Mgr Benedictus Estephanus Rolly Untu 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO-Uskup Keuskupan Manado, Mgr Benedictus Estephanus Rolly Untu mengeluarkan Surat Adven Uskup Keuskupan Manado tahun 2018.

Judulnya Martabat kaum awam dalam Komunitas Pelayanan, Surat Adven Uskup Keuskupan Monado tahun 2018

"Yang terkasih para Pastor, Biarawan-Biarawati, Kaum Awam Keuskupan Manado Memasuki tahun liturgi yang baru (pada hari Minggu tanggal 2 Desember 2018)" kita diajak untuk menatap ke depan untuk mewartakan masa depan, kita ditantang untuk merancang masa depan sambil memerkuat pijakan dan memerjelas keberpihakan kita dalam mewujudkan masa depan. Karena itu, di awal perjalanan bersama ke depan ini, pantaslah kita menegaskan pijakan dan arah pastoral kita ke depan," katanya.

 
Ia mengatakan pijakan pertama tentu saja adalah visi kelahiran Yesus, yaitu: "setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Yoh. 3:16), Memberi hidup kepada manusia dan membawa manusia
kepada kehidupan, bukan hanya kehidupan di dunia ini, melainkan juga kehidupan kekal di surga, meniadi cita-
cita dan perjuangan Yesus. 

"KelahiranNya memancarkan cahaya yang menerangi perjalanan, membaharui kehidupan yang merindukan penyelamatan. KehadiranNya dalam dunia menegakkan martabat manusia sambil merangkul mereka dengan penuh kasih," ujarnya.

Ia mengatakan dengan itu martabat manusia ditegakkan sambil meneladani model hidup yang ditampilkan oleh Anak Manusia yang "bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah
ada padaNya" {Luk. 2:40).

Ia menuturkan landasan pijak visi Yesus ini adalah kasih Allah. Untuk mewujudkan visi ini, Yesus membentuk komunitas
pelayanan bersama dengan para muridNya. 

"Pembentukan komunitas pelayanan ini didasarkan pada visi yang sama sambil mengarahkannya pada keberpihakan yang juga sama, yaitu melaksanakan ajaran cinta kasih: "kasihilah Tuhan Allahmu (...). Kasihilah sesamamu manusia, seperti dirimu sendiri" (Mat. 22:37-40)," tuturnya.

Demikian kata dia, pelaksanaan visi ini menjadi nyata di dalam karya-karya cinta kasih: "segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku" (Mat. 25:4O). Penegakan
martabat manusia menjadi nyata dalam pilihan keberpihakan untuk memberi kehidupan kepada sesama saudara
dan menuntun mereka kepada kehidupan, ke padang rumput yang hijau.

Ia mengatakan Gereja Keuskupan Manado sudah membentuk komunitas pelayanan yang bukan hanya beranggotakan kaum tertahbis dan biarawan-biarawati, melainkan juga kaum awam, dalam jumlah yang cukup signifikan,
sebagaimana terbaca dalam struktur Dewan Pastoral Keuskupan, Paroki, dan Stasi. 

"Begitu banyak kaum awam dilibatkan sebagai perwujudan pengakuan gereja akan martabat kaum awam dalam gereja. Pelibatan kaum awam dalam komunitas pelayanan ini didasarkan pada arah dasar dan rencana strategis pastoral keuskupan Manado, yaitu pengakuan akan martabat kaum awam berdasarkan sakramen baptis," katanya.

Ia mengarakan lelibatan kaum awam dalam persekutuan dengan kaum tertahbis dan biarawan-biarawati dilanjutkan dengan pemberdayaan kaum awam untuk memerluas jangkauan pelayanan gereja, supaya tidak ada lagi anggota gereja yang mengeluh kekurangan pelayanan. Kaum awam sesuai dengan martabat dan peluang hidup dan karya .asing-masing melibatkan diri untuk membangun dan menghidupkan gereja sambil hadir dan berperan sebagai "batu-batu yang hidup", bukan sebagai "batu sandungan" (l Ptr.2:5-71).

"Pemberdayaan kaum awam dalam komunitas pelayanan terus menerus diperluas sambil juga mengutus
kaum awam untuk menghadirkan wajah gereja dan memerdengarkan ajaran gereja di segala ruang kehidupan. Karya di bidang peningkatan partisipasi aktif dalam kehidupan liturgi dan menggereja, peningkatan kualitas
pendidikan, pengembangan sosial ekonomi, pelibatan dalam kehidupan sosial politik secara berkualitas, promosi
dialog dalam perjumpaan lintas agama dan budaya, harus menjadi ruang bagi kaum awam untuk hadir sebagai
"terang dan garam dunia" (Mat. 5:13-16)," ujarnya.

Ia menjelaskan panggilan dan perutusan kaum awam ini sungguh bernilai bagi gereja,
karena itu gereja sangat mendukung bahkan mendorong kaum awam untuk meningkatkan peran aktif mereka.
Kaum awam menimba kekayaan rohani dan ajaran gereja dari perjumpaan penuh persaudaraan dengan hirarki
dan kaum biarawan-biarawati, pelanjutkan karya kerasulan awam mereka dengan mengedepankan
injili, dan ajaran-ajaran gereja serta struktur hirarki.

Editor: Rine Araro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved