Kelapa itu Disebut Tree of Life, Wagub: Kok Petani Malah Sengsara

Wagub Sulut Steven Kandouw sebelumnya sempat mempertanyakan, jika disebut kehidupan kenapa saat ini petani sengsara harga kopra turun.

Laporan Wartawan Tribun Manado Ryo Noor

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Pohon kelapa itu disebut tree of life atau pohon kehidupan.

Konsep ini sebagaimana dikemukakan Refly Ngantung, Kepala Dinas Perkebunan Sulut kepada tribunmanado.co.id, Selasa (04/12/2018).

Baca: Derita Petra, Bocah Autis Penderita Gizi Buruk, Orangtuanya Pisah dan Dirawat Oma yang Sakit-sakitan

"Pohon kehidupan karena semua bagiannya bisa digunakan ," kata dia.

Pohon inilah yang menjadi sumber kehidupan masyarakat Sulut sejak dulu kala.

Wagub Sulut Steven Kandouw sebelumnya sempat mempertanyakan, jika disebut kehidupan kenapa saat ini petani sengsara harga kopra turun.

"Terus kenapa petani sengsara ?" kata dia saat rapat di ruangan wagub, Senin (03/12/2018).

Menurut Refly yang turun itu hanya harga kopra, daging buah yang diolah untuk jadi minyak, tidak untuk keseluruhan kelapa

Baca: Warga Mulai Bersihkan Puing-puing Kebakaran di Mahakeret Timur

"Kelapa itu ada buah utuh, bisa diambil sabut, tempurung, dan air," kata dia.

Saat ini persoalannya, petani hanya terfokus di kopra, padahal potensi produk turun lain juga punya naik ekonomis.

Di Sulut saat ini kata Refly ada 280 ribu hektare pekebunan kelapa, hanya 221 ribu di antaranya yang produktif.

Warga saat mengupas buah kelapa
Warga saat mengupas buah kelapa (Tribunmanado)

Dalam setahun bisa menghasilkan 221.000 ton kopra kering

Per tahun per hektare menghasilkan 1,1 ton kopra kering.

Data data Dinas Perkebunan petani kopra di Sulut itu berjumlah 194 ribu orang, 130 ribu di antaranya masuk kategori petani pengelola. (ryo)

Penulis: Ryo_Noor
Editor: Indry Panigoro
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved