Gereja Katolik: RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan Perlu Mengakomodir Kepentingan Semua Agama

Gereja Katolik Indonesia sudah mensinkronisasikan DIM Rancangan Undang-Undang (RUU) Pendidikan Keagamaan dan Pesantren di Kementerian Agama

Gereja Katolik: RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan Perlu Mengakomodir Kepentingan Semua Agama
Istimewa
Emmanuel Tular 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Gereja Katolik Indonesia sudah mensinkronisasikan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) Rancangan Undang-Undang (RUU) Pendidikan Keagamaan dan Pesantren di Kementerian Agama.

DIM itu hasil pembahasan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan tim ahli.

"Ini hasil masukan. Meski belum maksimal karena waktu terbatas," kata Emmanuel Tular, satu di antara anggota tim ahli yang diundang.

Posisi DIM Pemerintah (termasuk 84 halaman DIM Gereja Katolik Indonesia) sudah disinkronisasi di Kementerian Agama. Setelah itu akan dilakukan rapat dengan kementerian terkait, seperti Mendikbud, Menristek Dikti, Menkumham, Mendagri dan Menkeu, sebelum hasilnya disampaikan ke Presiden.

"Setelah itu, akan dipelajari oleh Presiden jika tidak ada perubahan maka DIM akan dikirim ke DPR RI yang merupakan lampiran dari Surat Presiden ke Pimpinan DPR untuk masuk ke tahap Pembicaraan tingkat l," katanya.

Tanggal 28 dan 29 November sudah dilakukan harmonisasi oleh Kementerian Agama, dan masing-masing agama dan termasuk perwakilan pesantren sudah menyampaikan DIM-nya untuk disatukan menjadi DIM versi Kementerian Agama.

Baca: Politisi Kristen‘Main’ di RUU Pesantren, Ketua PGI Sebut Politikus Kristen Lupa Idealisme

Baca: Jeirry Sumampouw: Anggota DPR RI Kristen Turut Bahas RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan

Emmanuel mengatakan, Gereja Katolik telah memperhatikan keseluruhan konteks RUU. Usulan dari Gereja Katolik adalah RUU Pendidikan Keagamaan, dan terkait Pesantren membutuhkan pemahaman tentang Pesantren apa yang dimaksud dengan Subkultur di dalam konsideran, apakah yang dimaksud merupakan bagian dari pendidikan agama Islam ataukah mengandung arti lain.

"Karena pemahaman awal bahwa Pesantren bagian dari Pendidikan Keagamaan Islam," katanya

Ia mengatakan, Gereja Katolik memandang pentingnya merumuskan kembali pendefinisian dari Pendidikan Keagamaan khususnya dari masing-masing agama.

"Dalam ruang lingkup, pengaturan perlu diubah rumusannya, bahwa semua lembaga pendidikan keagamaan merupakan lembaga penyiaran agama dan pemberdayaan," ujarnya.

Terkait dengan Pendidikan Keagamaan Nonformal dan Informal katanya merupakan kewenangan pimpinan gereja atau pimpinan agamanya masing-masing. Ia juga mengingatkan pentingnya perlindungan kepada para pendidik pendidikan keagamaan baik dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Dengan sebutan yang diakui dan dikenal.

(Ada dalam usulan seperti di Islam ada Kyai, Ustaz dan lain-lain( dll), kalau Katolik ada Uskup, Pastor, Suster, Frateran dll, kalau Kristen ada Pendeta, Evangelis dll, dan Buddha ada Bikhu, Bikhuni, di Konghucu ada Pandita juga dalam Hindu)

Penulis: David_Manewus
Editor: David_Kusuma
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved