Kuasa Hukum Fence Solambela Menyayangkan Proses Pemeriksaan Polisi, Ini Komentar Kasat Reskrim

Kuasa hukum Fence Solambela, Doan Tagah menyayangkan, proses pemeriksaan kliennya Fence Solambela alias Capsu

Kuasa Hukum Fence Solambela Menyayangkan Proses Pemeriksaan Polisi, Ini Komentar Kasat Reskrim
Tribun manado / ferdinand ranti
Kuasa Hukum Fence Solambela, Doan Tagah 

Kuasa Hukum Fence Solambela Menyayangkan Proses Pemeriksaan di Polres Minahasa, Ini Komentar Kasat Reskrim

TRIBUNMANADO.CO.ID, TONDANO - Kuasa hukum Fence Solambela, Doan Tagah menyayangkan, proses pemeriksaan kliennya Fence Solambela alias Capsu atas kasus pembunuhan anaknya saat di BAP di Kepolisian Polres Minahasa tidak ada pendampingan Penasehat Hukum.

Menurut dia dalam Pasal 54 KUHAP dengan tegas menyatakan bahwa: Guna kepentingan pembelaan, tersangka atau terdakwa berhak mendapatkan bantuan hukum dari seorang atau lebih penasehat hukum selama dalam waktu dan pada setiap tingkat pemeriksaan, menurut tata cara yang ditentukan dalam undang-undang ini.

“Hal ini berkaitan due process of law atau proses hukum yang adil,” ujarnya.

Dan amanat Undang-undang ini kembali dipertegas dalam Pasal 56 Ayat 1 yang menyebutkan Perbuatan pidana yang diancam dengan ancaman pidana 5 (lima) tahun atau lebih harus ada pendampingan Penasehat Hukum.

"Kalaupun Penyidik menyatakan pihak mereka menyediakan Penasehat Hukum/Advokat, kami menduga Berita Acara Pendampingannya ditandatangani oleh Penasehat Hukum tersebut setelah pemeriksaan kepada klien kami telah selesai dilakukan, sebab indikasinya klien kami tidak mengetahui dan tidak pernah melihat atau dikenalkan dengan Tim Advokat ataupun Penasehat Hukum yang disiapkan oleh Penyidik Reskrim Polres Minahasa," katanya, Jumat (30/11/2018).

Baca: Fakta Terbaru Pembunuhan Bocah Daud Solambela, Pengakuan Tersangka Fence Solambela dan Ibu Korban

Baca: Kapolres Minahasa Bakal Selidiki Isu Biseksual pada Fence Solambela

“Bagaimana mungkin ada pendampingan kuasa hukum/ advokat saat pemeriksaan, sementara klien kami tidak pernah tahu dan tidak kenal ataupun dikenalkan oleh penyidik siapa penasehat hukum yang mendampingi dirinya saat pemeriksaan berlangsung. Kan sudah seharusnya dan sepantasnya seseorang terperiksa ataupun seseorang tersangka harus berkomunikasi dengan penasehat hukum yang mendampingi dirinya," jelasnya.

“Bahkan menurut penyampaian klien kami, saat pemeriksaan tim psikolog yang didatangkan aparat kepolisian beberapa waktu lalu, Klien kami secara terang dan tegas telah menyatakan kepada ahli psikolog tersebut, bahwa bukan dia pelaku pembunuhan terhadap anaknya, dan pernyataan klien kami tersebut sempat direkam oleh ahli psikolog tersebut,” ujarnya lagi.

“Itu berdasarkan pengakuan klien kami kepada saya dan tim penasehat hukum. Tapi siapa nama dari Ahli Psikolog tersebut, saya tidak tahu persis dan klien kami juga sudah lupa,” ujarnya.

“Dan prinsipnya jika memang benar klien kami sebagai Pelaku utama dalam kasus ini, kami secara profesional dan proporsional membantu penyidik untuk menggali informasi sedalam mungkin dari klien kami," kata Doan lagi.

“Sejak kami resmi menjadi Kuasa Hukum dari Tersangka, kami berulang kali menyampaikan kepada tersangka, kalau merasa sebagai dalang ataupun pelaku pembunuhan terhadap anakmu, sebaiknya mengakui perbuatan tersebut, karena seseorang yang mengakui suatu tindak kejahatan, mengakui kesalahannya dan merasa bersalah dan menyesali perbuatan Pidana tersebut, akan mendapatkan keringanan dari Majelis Hakim saat pembacaan putusan nanti. Tapi dalam beberapa kali pertemuan, tersangka berulang kali dengan tegas menyatakan dan jelas menolak tuduhan itu," ungkap dia lagi.

Ia mengatakan, tersangka Fence Solambela menyangkal dan tidak mengakui perbuatan yang dituduhkan kepada dirinya bukan pada saat kami resmi menjadi Kuasa Hukumnya, tapi semenjak dirinya ditangkap, diperiksa dan ditahan.

Baca: LPAI Sulut Minta Jaksa Tetapkan Pasal Paling Berat untuk Fence Solembala

"Dan kenapa Tersangka Fence mengaku sebagai pelaku, menurut penyampaiannya kepada saya dan tim saya bahwa pengakuan tersebut didasari karena trauma dengan tekanan dan rasa sakit karena dipukuli, ditendang dan bahkan dipukul dengan balok kayu. Bahkan menurut Fence beberapa balok kayu yang digunakan sempat patah saat mendarat di beberapa bagian tubuhnya," pungkasnya.

Kasat Reskrim Polres Minahasa AKP Frengky Ruru mengatakan, pihaknya sudah lakukan prosedur yang ada, dan tersangka dalam pengakuannya sesuai yang terjadi.

"Tersangka mengakui kesalahannya dan berkas dalam waktu dekat di P21," katanya.(fer)

Penulis: Ferdinand_Ranti
Editor: David_Kusuma
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved