Duduk Terlalu Lama dapat Meningkatkan Risiko Demensia?

Menurut para ilmuwan, terlalu lama duduk dapat meningkatkan risiko demensia pada orang dewasa paruh baya.

Duduk Terlalu Lama dapat Meningkatkan Risiko Demensia?
Ilustrasi 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Moms atau Dads sering menghabiskan banyak waktu untuk duduk selama bekerja?

Jika iya, mulai kini ada baiknya selingi dengan aktivitas ringan seperti peregangan kecil.

Karena tanpa disadari, duduk terlalu lama cenderung berbahaya bagi kesehatan loh Moms.

Menurut para ilmuwan, terlalu lama duduk dapat meningkatkan risiko demensia pada orang dewasa paruh baya.

Adapun penelitian ini diterbitkan dalam jurnal PLOS One, seperti dilansir dari laman zeenews.india.com.

Dalam penelitian, para peneliti, termasuk Prabha Siddarth dari University of California, Los Angeles di Amerika Serikat, telah merekrut 35 orang (berusia antara 45 dan 75 tahun).

Peneliti bertanya pada peserta mengenai tingkat aktivitas fisik dan jumlah rata-rata jam per hari yang dihabiskan untuk duduk selama minggu sebelumnya.

Dalam hal ini, peneliti menggunakan MRI scan resolusi tinggi, untuk melihat gambaran rinci pada lobus temporal medial, wilayah otak yang terlibat dalam pembentukan memori baru.

Para peneliti menemukan, perilaku menetap secara rutin seperti duduk dalam jangka waktu yang lama dapat menjadi penyebab penipisan lobus temporal medial.

Bahkan aktivitas fisik tingkat tinggi, tidak cukup untuk mengimbangi efek berbahaya dari kebiasaan duduk terlalu lama.

Penipisan lobus temporal medial dapat menjadi awal penurunan kognitif dan demensia yang terjadi pada orang dewasa setengah baya dan orang dengan usia yang lebih tua.

Sementara itu, Siddarth mengatakan, untuk meningkatkan kesehatan otak pada orang yang berisiko terkena penyakit Alzheimer, maka penting mengurangi perilaku menetap seperti duduk terlalu lama.

Meski demikian, studi ini tidak membuktikan bahwa terlalu banyak duduk menyebabkan struktur otak yang lebih tipis, tetapi sebaliknya lebih banyak waktu yang dihabiskan untuk duduk dapat dikaitkan dengan daerah yang lebih tipis.

Editor: Rine Araro
Sumber: Nakita
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved