JNE dan UKM di Sulawesi Utara

Juniza Memulai Sukses dari Menjual Hadiah Perkawinan

Padahal masih hujan deras. Tapi karena sudah ditolak, ya terpaksa kami langsung keluar dari toko

Juniza Memulai Sukses dari Menjual Hadiah Perkawinan
tribunmanado/ist
Juniza dan Maikel pameran di Tokyo, Jepang 

TRIBUNMANADO.CO.ID, TONDANO - Juniza Paputungan tak akan lupa dengan peristiwa tanggal 14 Juni 2006 silam, momen penting yang menjadi awal perubahan kehidupan keluarganya.

Hari itu adalah hari jadi pernikahan kedelapan dirinya dengan Maikel Tampi. Tanpa disangka tiba-tiba suaminya memberikan kejutan, ia membuat miniatur mobil kuno dari batok kelapa dan diberikan sebagai hadiah perkawinan.

“Bagus sekali pak hadiahnya, seperti mobil yang dipakai di film vampir jaman dulu, panjang. Hadiah itu langsung saya pajang di ruang tamu,” ujar Juniza bercerita kepada tribunmanado.co.id, Minggu (11/11/2018)

Beberapa hari kemudian Juniza kedatangan tamu dari Kecamatan Tondano. Salah seorang dari tamu tersebut lihat minatur mobil yang dipajang dan langsung tertarik.

“Mobil itu langsung dibeli Rp 300.000. Awalnya saya enggan menjual karena hadiah suami. Tapi saya pikir-pikir ini justru peluang promosi dan akan buat lagi,” ujarnya wanita berusia 43 tahun ini.

Sejak saat itulah Juniza dan Maikel memutuskan untuk mengolah limbah buah kelapa dan turunannya menjadi kerajinan tangan. “Limbah kelapa banyak berserakkan, ternyata bisa diolah menjadi barang bernilai jual,” ujarnya

Langkah pertama ia meminjam uang di koperasi Rp 500 ribu, sebagai modal awal membeli semua alat pendukung dan bahan-bahan lainnya. Ia lalu berbagi tugas, suaminya mengerjakan produksi dan dirinya fokus memasarkan.

“Lalu saya mulai jalan keliling Minahasa hingga Tomohon membawa karya suami saya, menawarkan turun naik rumah (baca: dari rumah ke rumah),” ujarnya.

Miniatur bendi dari batok kelapa
Miniatur bendi Minahasa dari batok kelapa 

Memulai usaha kerajinan limbah kelapa ini tidak langsung berjalan mulus. Ada beberapa pengalaman menyedihkan harus mereka alami.

“Suatu hari di tahun 2003, saya dan suami menyusuri jalan di Tomohon membawa kardus berisi karya suami saya. Lalu kami masuk ke sebuah toko souvenir yang berada di pinggir jalan. Saya masih ingat waktu itu hujan deras,” ujarnya mengisahkan.

Dengan percaya diri Juniza menawarkan aneka gantungan kunci hingga minatur mobil dari batok kelapa kepada seorang perempuan, dia pemilik toko.

“Ibu Mau Ambil kerajinan tempurung kelapa? Ini khas produk dari Minahasa bu?” ujar Juniza. Belum juga melihat, si ibu langsung menolak. “Oh tidak perlu! So banyak produk kerajinan tangan seperti ini. Nda perlu kita!” ujar Juniza menirukan kalimat pemilik toko.

Halaman
1234
Penulis: Charles Komaling
Editor: Charles Komaling
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved