Menguak Kisah Perjuangan Bung Tomo, Penggelora Semangat Juang Arek-arek Suroboyo

Barangkali Bung Tomo sama sekali tak menyangka bila perjalanannya ke Jakarta pada awal Oktober 1945 akan menentukan peran yang dilakoninya

Menguak Kisah Perjuangan Bung Tomo, Penggelora Semangat Juang Arek-arek Suroboyo
Kolase Tribunstyle.com
Soekarno dan Bung Tomo 

Oleh:
Lenni Ika Wahyudiasti
Kepala Bagian Umum Kator Wilayah Direktorat Jenderal Bea Cukai Sulawesi Bagian Utara

BUNG Tomo dan Pertempuran Surabaya 10 November 1945 merupakan dua ikon penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Sosok Bung Tomo kerap disandingkan dengan pertempuran hebat di Surabaya yang sehari sebelumnya menewaskan Brigadir Jenderal A.W.S Mallaby, pimpinan tentara Sekutu yang berusaha menduduki Surabaya tersebut. Catatan sejarah negeri ini bahkan menempatkan Palagan Surabaya itu sebagai titik terpenting dalam revolusi kemerdekaan Indonesia.

Memuncaknya gerakan perlawanan rakyat Surabaya yang pantang menyerah dan rela berkorban saat itu boleh dibilang bermula dari pidato-pidato inspiratif dan fenomenal Bung Tomo yang menggelora lewat siaran radio.

Lalu, siapakah sebenarnya Bung Tomo? Bagaimana peran heroik Bung Tomo dalam Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya?

Benarkah ia hadir dan berorasi lantang membakar semangat juang rakyat Surabaya dalam Palagan Surabaya yang kemudian diabadikan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai Hari Pahlawan tersebut?

Mengapa pula pemerintah baru menetapkannya sebagai pahlawan pada tahun 2008?

Buku “Bung Tomo, Soerabaja di Tahun 45" setebal 159 halaman terbitan KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) bekerja sama dengan Tempo Publishing menjawab keingintahuan pembaca tentang sosok Sutomo yang lebih dikenal dengan nama Bung Tomo itu.

Meski tak menggunakan kata ‘bab’, buku yang disusun oleh Budi Setyarso, Yandhrie Arvian, Anton Aprianto bersama tim redaksi KPG ini sejatinya terbagi dalam enam bab plus satu kolom yang ditulis oleh Abdul Wahid, sejarawan dari Universitas Gajah Mada.

Agaknya tim penulis sengaja tak menamai tiap bagian dengan sebutan bab’ lantaran kisah tentang kehidupan Bung Tomo yang ditulis dalam buku ini tak disajikan secara urut berdasarkan kronologis waktu sejak Bung Tomo kanak-kanak hingga ia tutup usia di Padang Arafah tahun 1981.

Sampul depan buku
Sampul depan buku "Bung Tomo, Soerabaja di Tahun 45" (ISTIMEWA)
Halaman
12
Editor: maximus conterius
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved