Kampanye Pilpres Kehilangan Substansi: Begini Tanggapan Pengamat Politik

Bahasa yang tidak lazim digunakan oleh para politisi pada belakangan ini, khususnya oleh kedua calon presiden

Kampanye Pilpres Kehilangan Substansi: Begini Tanggapan Pengamat Politik
TRIBUNWOW.COM
Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno, Pasangan capres dan cawapres pada Pilpres 2019 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Bahasa yang tidak lazim digunakan oleh para politisi pada belakangan ini, khususnya oleh kedua calon presiden (capres).

Masih teringat istilah "Tampang Boyolali" yang disampaikan oleh capres Prabowo Subianto, belakangan capes petahana Joko Widodo melontarkan istilah "Politisi Genderuwo", sebagai konotasi kepada mereka yang sering menakut-nakuti rakyat. Sebelum itu, Jokowi lebih dulu mengeluarkan sebutan "Politisi Sontoloyo".

Pengamat politik, Pangi Syarwi Chaniago menyebutkan saat ini kampanye pilpres siudah kehilangan substansinya. Alasannya, para politisi sudah lebih memilih untuk saling mengkritisi menggunakan bahasa-bahasa di luar substansi kampanye.

"Mereka menyebut 'sontoloyo', 'genderuwo', 'tampang Boyolali' dan yang lain juga. Bagi saya, dagelan saja. Kampanye kita sudah kehilangan substansinya," jelas dia kepada Tribun, Jakarta, Jumat (9/11)
Seharusnya, para politikus menjelaskan tentang program dan visi misi pasangan calon kepada masyarakat.

Program itu yang nantinya akan menjadi bahan diskusi di masyarakat agar dapat lebih mengenal calon yang berkontestasi saat ini. "Bukan justru berdebat soal narasi-narasi yang sesungguhnya tidak punya makna," lanjutnya.

Pakar media sosial, Ismail Fahmi menjelaskan dengan kata-kata yang tidak lazim digunakan oleh politikus, justru bisa saja menjadi senjata makan tuan. Seperti halnya, "Tempe Setipis ATM", "Politisi Sontoloyo", dan "Tampang Boyolali".

Menurutnya, hal itu akan sangat tergantung dari simpatisan kedua kubu untuk membuat konteks dari perkataan tersebut. "Kata-kata seperti ini akan sangat mudah untuk diolah di media sosial. Tapi, bisa jadi boomerang bagi mereka yang melontarkan. Akan sangat tergantung bagaimana fans kedua kubu meng-konteks-kan untuk melakukan serangan," ujarnya.

Dia mengingatkan untuk kedua kubu capres agar tidak banyak melontarkan kata-kata seperti itu. Bukan tidak mungkin nantinya masing-masing pengikut akan menghitung seberapa banyak narasi negatif yang sudah diucapkan para calon.

"Ya bisa saja dihitung. Nanti bilangnya, 'masa pemimpin bahasanya tidak mendidik?' atau 'cerminan pemimpin terlihat dari kata-katanya'. Dengan begitu, mereka akan menghitung berapa kali kata-kata tersebut terucap meski maksudnya bercanda atau mencibir," urai Ismail.

Wakil Ketua Dewan Kehormatan PAN, Dradjad Wibowo mengaku heran dengan Jokowi yang akhir-akhir ini selalu melontarkan pernyataan kontroversial. Setelah Sontoloyo, kini Jokowi menyebut banyak politikus yang menggunakan gaya politik genderuwo.

Halaman
1234
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved