Kakeknya Jadi Pahlawan: Anies Apresiasi Pemerintahan Jokowi

Jokowi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada enam tokoh dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 2018.

Kakeknya Jadi Pahlawan: Anies Apresiasi Pemerintahan Jokowi
antara
Presiden Jokowi berjabat tangan dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Istana Negara Jakarta, Kamis (8/11/2018). 

Sebelumnya, keenam nama orang yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional tersebut diusulkan oleh Dewan Gelar k Presiden Jokowi. Sejak awal, tidak tidak ada nama Presiden RI ke-2 Soeharto dan Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur diusulkan oleh Dewan Gelar.

Wakil Ketua Dewan Gelar Jimly Asshiddiqie mengatakan, pihaknya memang mendapat banyak pertanyaan soal apakah Soeharto dan Gus Dur akan diusulkan untuk diberi gelar Pahlawan Nasional tahun ini. Namun Jimly memastikan, kedua nama itu belum dimasukkan sebagai calon tahun ini.

"Ya, yang paling banyak pertanyaan itu Gus Dur dan Soeharto. Dua nama itu sudah berkali-berkali diajukan, tapi tahun ini tidak diajukan tim," ujar Jimly saat menyerahkan beberapa nama calon penerima gelar pahlawan nasional tahun ini kepada Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (1/11/2018).

Jimly menjelaskan, proses seleksi untuk pemberian gelar pahlawan nasional itu ada di Kementerian Sosial. Kemudian, ada Tim Peneliti Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) yang akan meneliti dan mengkaji nama-nama yang diusulkan.

"Setelah itu diserahkan ke Dewan Gelar. Dewan Gelar kemudian lapor ke Presiden," ujarnya.
Teringat jadi Juru Ketik

Anies Baswedan mengaku mendapat banyak pengalaman dan kenangan dengan kakeknya, AR Basweda, semasa hidup.

Satu di antara pengalaman tersebut, yaitu saat ia menjadi juru ketik ketika kakeknya menulis kolom di surat kabar.

Sejak bayi hingga menjadi siswa SMA, Anies mengaku tinggal di rumah kakeknya di Yogyakarta. Dalam keseharian di rumah, AR Baswedan banyak menghabiskan waktu dengan menulis kolom untuk surat kabar.
"Saya waktu itu bagian mengantarkan ke kantor pos, ketika SD saya bagian mengetik, kalau beliau mendiktekkan," kenang Anies.
 

Saat menjadi juru ketik, Anies terkenang dengan salah satu pengalaman unik yang dialaminya semasa itu. Yah, saat itu kakeknya selalu memberikan catatan khusus di akhir karya kolom hasil ketikan Anies, yakni tertulis, 'Surat ini, saya diktekan pada cucu saya, Anies'.

"Saya bangga sekali, saya baru tahu di kemudian hari, bahwa itu adalah cara memberitahu penerima kalau salah-salah ketik yang membuatnya adalah cucunya. Itu diplomasi yang halus, membuat yang satu sisi senang, sisi lain tahu," kenangnya lagi.

Halaman
1234
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved