Beban Emiten Properti Masih Berat

Harga saham sektor properti yang sudah murah belum cukup menjadi daya tarik bagi investor. Pasalnya, outlook industri properti belum pulih.

Beban Emiten Properti Masih Berat
tribun manado
Mahasiswa magang IDX memantau saham di kantor sekuritas di Manado. 

TRIBUNMANADO.CO.ID-Harga saham sektor properti yang sudah murah belum cukup menjadi daya tarik bagi investor. Pasalnya, outlook industri properti belum pulih. Apalagi, mayoritas laba emiten sektor ini turun pada triwulan III.

Analis Semesta Indovest Sekuritas Aditya Perdana Putra mengatakan, dibandingkan tiga tahun lalu, valuasi saham properti cukup murah. Tapi, kinerja emiten properti masih menghadapi tantangan, utamanya dari potensi kenaikan suku bunga Bank Indonesia. Kenaikan bunga akan memperlambat pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR).  

Dengan kecenderungan itu, Aditya memperkirakan sektor properti belum akan pick up di sisa tahun ini. Bahkan hingga tahun depan, sektor tersebut masih wait and see.

Baca: OJK Sulutgomalut Apresiasi PKK Bitung yang Aktif di Bursa Saham

Memang, ada sejumlah insentif yang ditujukan bagi sektor properti. Seperti, pelonggaran loan to value (LTV), relaksasi kepemilikan properti untuk asing dan pelonggaran pajak properti mewah. Tapi, kata Aditya, daya beli masyarakat belum tumbuh signifikan. Saat ini, properti menjadi barang premium. Sekalipun tahun depan upah naik, tidak otomatis mengungkit daya beli properti.

Dennies Christoper Jordan, analis Artha Sekuritas sependapat, sektor properti masih melambat hingga akhir tahun ini. Ketidakpastian di pasar global menyebabkan investor lebih berhati-hati berinvestasi khususnya di sektor properti
Di dalam negeri, investor juga mewaspadai efek tahun politik jelang Pilpres 2019. Itu sebabnya, mayoritas saham properti merosot. Indeks sektor properti dan konstruksi minus 17,20 persen year to date.

Aditya menilai, industri properti butuh waktu panjang untuk rebound, karena ada penyesuaian suku bunga.
Menurut Dennies, sektor properti akan mulai pick up apabila perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China berakhir. Sebab, perekonomian global akan pulih sehingga negara emerging market, seperti Indonesia, menarik dijadikan tujuan investasi.

Baca: Update Bisnis: Pendapatan Prodia Tumbuh 7%, Saham hingga Prediksi Rupiah

Meski begitu, kata dia, masih ada emiten yang menarik. Dia menjagokan Sentul City (BKSL). Sebab, emiten ini tengah menggarap sejumlah proyek, seperti center business district (CBD) Aeon. Pendapatan triwulan III-2018 juga masih naik 12,03 persen  secara tahunan. "Diperkirakan tahun 2020, layanan light rail transit (LRT) mencapai Sentul. Sehingga properti di sana semakin menarik," papar Dennies. Dia menargetkan harga BKSL jangka pendek di kisaran Rp 105-Rp 110 per saham.

Menurut Aditya, saham properti yang mulai pick up yaitu Pakuwon Jati (PWON). Emiten ini punya prospek lebih baik berkaca pada kinerja triwulan III yang solid. "Saham ini akan mulai bullish di akhir tahun," prediksi dia.
Akhir tahun ini, harga PWON berpeluang ke posisi Rp 600 per saham. Kemarin (5/11), PWON berakhir di harga Rp 550 per saham, sementara harga BKSL berada di level Rp 95 per saha. (Kontan)

Editor: Herviansyah
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved