Update Bisnis: Pendapatan Prodia Tumbuh 7%, Saham hingga Prediksi Rupiah

Selama sembilan bulan di tahun ini, PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) membukukan pendapatan bersih

Update Bisnis: Pendapatan Prodia Tumbuh 7%, Saham hingga Prediksi Rupiah
kompas.com
Saham Lippo Group anjlok pascakasus dugaan suap megaproyek Meikarta 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Selama sembilan bulan di tahun ini, PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 1,12 triliun. Jumlah tersebut tumbuh 7,2% dibandingkan pendapatan di periode yang sama tahun lalu.

Prodia juga mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 7,7% menjadi Rp 106,49 miliar hingga kuartal ketiga tahun ini. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, PRDA mencatatkan laba bersih Rp 98,90 miliar.
Dewi Muliaty, Direktur Utama Prodia mengatakan, pencapaian kinerja positif di tahun ini mencerminkan perusahaan tetap fokus untuk tumbuh secara berkelanjutan.

"Di tengah kondisi pasar yang penuh dengan tantangan, kami tetap dapat mempertahankan kinerja keuangan yang solid. Kami fokus pada keunggulan layanan pemeriksaan kesehatan berkualitas," klaim Dewi dalam keterangan resminya, Selasa (30/10).

Kenaikan Tarif Jasa Tambang Dorong Kinerja MYOH

Tren bullish harga batubara turut mendorong kinerja keuangan perusahaan jasa pertambangan, PT Samindo Resources Tbk (MYOH). Hingga kuartal III 2018, MYOH meraup laba bersih sebesar US$ 21,5 juta, naik 148,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu US$ 8,6 juta.

Pencapaian tersebut ditopang pertumbuhan penjualan. Hingga kuartal III 2018, MYOH membukukan pendapatan senilai US$ 175,2 juta atau tumbuh 31,4% dibandingkan pendapatan di periode yang sama tahun lalu US$ 133,29 juta.

Head of Investor Relations PT Samindo Resources Tbk, Ahmad Zaki Natsir menyebutkan, pertumbuhan laba bersih lantaran MYOH mendapatkan berkah dari kenaikan tarif jasa tambang sebesar 5%. "Kami mendapatkan kenaikan tarif jasa tahun ini maksimal 5% dari tambang milik Bayan Resources. Sebab harga batubara saat ini sekitar US$ 90 per ton hingga US$ 100 per ton," ungkap dia, kemarin.

MYOH juga meraih biaya kelebihan kilometer yang dibayarkan klien untuk pengangkutan dari lokasi tambang ke area penumpukan (stockpile). "Dari semula di bawah 5 km, kini klien meminta jarak hingga 7 km. Jadi ada biayanya jika jarak lebih jauh, klien membayar lagi," imbuh Zaki.

Selain itu, efesiensi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) alat berat menjadi faktor pendongkrak laba bersih. "Kami berhasil menekan penggunaan BBM," ujar dia.

Sepanjang Januari-September 2018, MYOH merealisasikan belanja operasi sebesar US$ 6,6 juta. Angka itu lebih tinggi 11,86% dibandingkan realisasi kuartal III 2017 sebesar US$ 5,9 juta. Adapun untuk belanja modal (capex), hingga akhir September 2018 terealisasi US$ 11,6 juta dari proyeksi US$ 13,8 juta.

Halaman
1234
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved