Tajuk Tamu - Mengenal Kejurnas Antar Kabupaten Kota

Mengenal kejurnas antar Kabupaten/Kota, Bert Toar Polii menceritakan selama mengikuti Kejurnas Bridge pada tahun 1974 di Magelang

Tajuk Tamu - Mengenal Kejurnas Antar Kabupaten Kota
Ist
Bert Toar Polii 

Oleh: Bert Toar Polii

Selama mengikuti Kejurnas Bridge, diawali  tahun 1974 di Magelang  dan selanjutnya tanpa henti sampai saat ini, salah satu nomor pertandingan yang paling menarik sekaligus mencekam di Kejurnas Bridge, menurut penulis adalah pertandingan Antar Gabungan.

Menyebut tahun 1974, ternyata sudah cukup lama penulis berkecimpung di dunia bridge apalagi kalau dihitung sejak penulis mengenal permainan bridge di kampung asal penulis, Tondano. Tepatnya tahun 1970 atau 48 tahun yang lalu. Waktu itu, pemain bridge di Tondano bisa dihitung dengan jari, jauh berbeda dengan sekarang, dimana sudah puluhan dan mungkin ratusan pemain. Malah, Tondano merupakan salah satu sumber atlet berbakat.

Sebagai bukti, di Pelatnas Bridge Asian Games 2018, dari 32 atlet, ada 5 atlet yang terdiri dari 3 putra dan 2 putri berasal dari Tondano. Di putri ada Lusje Bojoh dan Joice Tueje  sementara di putra tampil Franky Karwur, Jemmy Bojoh  dan penulis sendiri Waduh mohon maaf sudah terlalu jauh bernostalgia dengan kampung halaman. Mari kita kembali ke Kejuaraan Antar Gabungan.

Sejarah Antar Gabungan

Kejuaraan bridge antar gabungan yang kita kenal saat ini, awalnya disebut Kejuaraan Bridge Antar Kota. Kejuaraan ini merupakan ide dari  Frans Logyantara, seorang pengusaha otomotif Scorpio Motors, yang keranjingan main Bridge.  

Kejuaraan ini mulai dilaksanakan pada tahun 1965 di Jakarta, memperebutkan Scorpio Bowl. Pemilihan nama ini barangkali terinspirasi dari Bermuda Bowl. Kejuaraan dunia bridge  yang prestisius.

Namun setelah sempat diperebutkan dua kali, kemudian diganti dengan Piala Presiden Soeharto. Tahun 1972, pada saat yang sama sebutan Antar Kota dirubah menjadi Antar Gabungan.

Mengikuti AD/ART KONI, PB GABSI kemudian merubah gabungan dengan kabupaten/kota di  AD/ART GABSI dan akibatnya Kejurnas Antar Gabungan kembali seperti semula menjadi Kejurnas Antar Kabupaten/Kota . Walaupun sudah diganti , tetap saja para pemain akrab dengan Kejurnas Antar Gabungan dan masih  masih sering digunakan.

Pada mulanya, setiap regu terdiri dari kombinasi tiga tim empat-kawan dengan jumlah pemain minimum 12 orang dan maksimum 18 orang. Oleh karena jumlah peserta makin bertambah banyak, mulai tahun 1974 peserta dibagi dalam dua klasemen.

Halaman
1234
Editor: Ferra Faradila Rizki Sahibondang
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved