Tajuk Tamu - Komoditas Politik Generasi Milenial

Dalam pemasaran politik, salah satu komoditas unggulan yang laku keras adalah generasi milenial

Tajuk Tamu - Komoditas Politik Generasi Milenial
Ist
Ferlansius Pangalila, Peneliti Sabda Palon Institute Jakarta 

Oleh: Ferlansius Pangalila, Peneliti Sabda Palon Institute Jakarta

Dalam pemasaran politik, salah satu komoditas unggulan yang laku keras adalah generasi milenial. Ini adalah barang dagangan yang digelar dengan berbagai asesoris media sosial di masa kampanye.

Meletakan generasi milenial sebagai subjek dalam perhelatan politik saat ini, hanyalah wacana retorik yang sering hiperbola. Generasi milenial itu hanya barang dagangan yang dikumpulkan, dimanfatkan dan sering dimanipulasi. Tragis!

Generasi milenial yang berjumlah sekitar 80 juta jiwa atau 40% suara dalam pemilu 2019 nanti memang sangat seksi dan menggoda. Ini menjadi daya tarik yang sangat menggiurkan bagi para pemburu suara yang akan melakukan apa saja untuk memperoleh suara generasi milenial ini.

Para pemburu suara tahu persis bahwa generasi milenial bukanlah masa emansipatoris yang sadar ideologis sehingga perlu strategi agitasi dan propaganda dengan style formil dan kekakuan kader partai politik.

Mereka juga tahu bahwa generasi milenial bukanlah masa yang memegang teguh berbagai nilai etis dari abad pertengahan atau sebagai penganut ideologi tertentu yang hanya dipahami oleh para filsuf.

Atau barangkali benar bahwa generasi milenial memang tidak suka politik sehingga membiarkan dirinya hanyalah sebagai objek, komoditas yang diperdagangkan dalam bursa pemilihan umum.
  
Ini tidak bermaksud bahwa generasi milenial adalah generasi labil yang dengan mudah diseret-seret ke berbagai kepentingan dan pragmatisme politik sehingga terjebak pada primordialisme sesat dan politik transaksional.

Justru generasi milenial adalah generasi yang tidak suka diatur, tidak loyal dalam politik, sangat dinamis dan cepat berubah persepsi politiknya hanya karena dipengaruhi oleh lingkungannya. 

Lingkungan generasi milenial adalah di dunia realitas dan di dunia maya, namun pergaulannya yang luas berinteraksi lebih sering dan lebih nyaman melalui dunia maya. Media sosial menjadi medan pergaulan yang benar-benar nyata dan sangat mempengaruhi persepsi politik generasi milenial ini.

Persepsi politik ini lebih banyak bukan karena ideologi melainkan karena figur calon yang seringkali terlihat luar biasa karena berbagai polesan fake news, hoax dan conspiracy theory yang berseliweran di berbagai media sosial.

Halaman
123
Editor: Ferra Faradila Rizki Sahibondang
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved