Saham Properti Mulai Merangkak

Mayoritas saham sektor properti menguat kemarin (17/10). Bahkan, saham-saham yang tertekan sepanjang tahun ini berhasil bangkit.

Saham Properti Mulai Merangkak
kontan
Ilustrasi saham 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Mayoritas saham sektor properti menguat kemarin (17/10). Bahkan, saham-saham yang tertekan sepanjang tahun ini berhasil bangkit. Tengok saja, Lippo Cikarang (LPCK) yang naik 5,11%. Secara year to date (ytd) saham ini minus 57,64%.
Saham-saham lain yang juga naik signifikan, kemarin, yaitu Bumi Serpong Damai (BSDE) dengan kenaikan 6,34%, Pakuwon Jati (PWON) naik 5,33% dan Summarecon Agung (SMRA) menanjak 5,26%

Isu yang berkembang di pasar, properti diselimuti sentimen positif. Kabarnya, pemerintah berniat merevisi aturan kepemilikan asing pada properti dari semula hanya hak guna menjadi hak milik.

Namun, William Surya Wijaya, VP Research Department Indosurya Bersinar Sekuritas menilai, kabar revisi aturan bukan kunci penggerak saham properti. Sebab, itu baru sekadar rencana. "Saham properti hanya rebound teknikal setelah cenderung turun di tahun ini," kata dia, Rabu (17/10).

Sebagai gambaran, indeks sektor properti dan konstruksi turun 16,73% ytd. Sejatinya, pelemahan sektor ini bukan karena fundamental emiten tidak bagus, tapi karena daya beli yang sedang rendah.

Meski begitu, kata William, emiten masih mendapatkan pemasukan dari pendapatan berulang (recurring income). Seiring perbaikan ekonomi, permintaan terhadap properti akan naik. "Saham properti itu long lasting, sebaiknya hold. Yang menarik PWON, SMRA dan ASRI," ujar dia.

Analis BCA Sekuritas Achmad Yaki menilai, rebound saham properti lebih karena kinerja marketing sales sejumlah emiten di kuartal tiga menunjukkan perbaikan, seperti kinerja CTRA dan ASRI.
Khusus saham Grup Lippo, LPKR dan LPCK, dia bilang, penguatan terjadi karena sudah waktunya setelah turun tajam di hari sebelumnya.

Achmad menilai, revisi aturan kepemilikan properti bagi asing tak akan berdampak signifikan pada saham properti. Meski direlaksasi, minat asing belanja properti masih terganjal suku bunga tinggi.

Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada menilai, ketimbang revisi aturan properti bagi asing, katalis relaksasi aturan uang muka kredit pemilikan rumah (KPR) atau loan to value (LTV) berdampak lebih besar. Sebab, pembeli terbesar properti masih warga domestik.

Orang asing kebanyakan memilih apartemen, bukan residensial. Meski kinerja emiten properti belum solid, kata Reza, saham properti masih menarik, sebab sektor ini masih konsolidasi

Achmad melihat CTRA, BSDE, SMRA dan ASRI masih menarik. Terlebih, harga saat ini sudah di level bottom. Hanya saja, BSDE dan ASRI masih memiliki potensi koreksi akibat depresiasi rupiah. Keduanya punya utang denominasi valas cukup besar. Target harga CTRA tahun ini di Rp 1.200 dan SMRA Rp 1.100.

Halaman
123
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved