Perbakin Endus Unsur Kesengajaan Penembakan Ruangan Wenny Warouw Cs

Humas Pengurus Pusat Perbakin, Rocky Roring adanya kecenderungan unsur kesengajaan dari dua tersangka kasus penembakan

Perbakin Endus Unsur Kesengajaan Penembakan Ruangan Wenny Warouw Cs
Tribunnews.com/ Repro. Kompas TV
(kiri) Kaca ruangan anggota DPR RI berlubang ditembus peluru nyasar. (kanan) jilbab staf ahli anggota DPR berlubang kena peluru, Senin (15/10/3018). 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Humas Pengurus Pusat Perbakin, Rocky Roring menilai adanya kecenderungan unsur kesengajaan dari dua tersangka kasus penembakan gedung DPR.

Pasalnya, lima peluru terlepas dari pistol tangan jenis Glock 17 dan mengarah ke gedung DPR.
"Dua saja sebenarnya sudah tidak mungkin kalau tidak sengaja. Ini lima lagi," katanya saat dihubungi Tribun, Jakarta, Rabu (17/10).

Dia menguraikan, senjata jenis Glock meski dimodifikasi menjadi full automatic, tetap harus menarik pelatuk satu persatu agar peluru terlontar. Tidak bisa, satu kali tarikan lima peluru terlontar sekaligus.

Baca: Ruang Kerja Wenny Warouw Cs Kena Rentetan Tembakan: Dugaan Kesengajaan Makin Kuat

"Ini kan pistol. Bukan AK, bukan senapan juga. Harus satu-satu nembaknya. Bukan satu tarikan pelatuk, langsung lima gitu. Enggak bisa begitu mau dimodif sedemikian rupa, enggak bisa,"ujar Rocky.

Dia berandai, jikalau saat itu penembak melakukan reload (penggantian magasin) hanya satu peluru yang memungkinkan terlontar secara tidak sengaja, yakni peluru sisa yang masih tertinggal di dalam selongsong. Selebihnya, harus dikokang terlebih dahulu dan menembak ke arah sasaran.

"Kalau dia merasa sudah kosong, kemungkinan kan hanya satu yang sisa. Bukan lima. Kalau sekali tembak bisa lima peluru keluar, seharusnya semua isi magasin itu keluar. Satu magasin itu bisa isi 15 peluru,"ujar Rocky.

Anggota Komisi III DPR RI Wenny Warouw
Anggota Komisi III DPR RI Wenny Warouw (Tribunnews.com/Chaerul Umam)

Lagipula lanjutnya, tersangka yang latihan tembak di lokasi itu, bukanlah orang yang baru memegang senjata. Sudah mendapatkan sertifikasi dari Perbakin daerah dan sudah diperbolehkan untuk berlatih di Senayan, setidaknya sudah memiliki pengalaman selama satu tahun belajar memegang senjata.

Belum lagi, pasti ada instruktur dan kru dari Lapangan Tembak yang harus menemani saat latihan terjadi. "Atlet saja masih harus didampingi kok. Saya curiga ini oknum sih,"ujarnya.

"Saya harus tegaskan, prinsip dasar memegang senjata, pertama safety, kedua safety, ketiga safety. Harusnya dia (pelaku) tahu soal ini," tegasnya.

Rocky juga melihat kejanggalan lain dari penembak. Dalam lapangan yang terbuka untuk tembak reaksi, sasaran hanya terbagi dua arah, mendatar dan ke bawah. Tidak ada sasaran yang mengarah ke atas dari semua level penembakan yang harus dilalui.

Halaman
1234
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved