Memacu Pertumbuhan Kredit: Para Bankir Memetakan Kondisi Ekonomi

Kalangan perbankan masih terus mencari cara meningkatkan kredit. Kondisi ekonomi yang masih belum stabil membuat bankir memang

Memacu Pertumbuhan Kredit: Para Bankir Memetakan Kondisi Ekonomi
kontan
Ilustrasi saham 

Senin (15/8), Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa neraca perdagangan Indonesia periode September mencatatkan surplus senilai US$ 227,1 juta. Posisi ini lebih baik ketimbang di neraca dagang Agustus 2018. Saat itu, neraca dagang Indonesia masih mengalami defisit sebesar US$ 944,2 juta.

Hutang Negara
Hutang Negara (Aktual)

Menurut Anil, sewaktu neraca perdagangan Indonesia defisit, investor asing bakal enggan masuk ke pasar obligasi nasional melalui lelang. Kalaupun investor tersebut mengikuti lelang, sudah dipastikan yield yang diminta cenderung tinggi, melebihi realita di pasar sekunder.

Alhasil, pemerintah pun enggan menyerap. "Investor asing tahu bahwa pemerintah punya kebutuhan dana tapi ada masalah pada indikator makroekonomi Indonesia," terang Anil, Senin (15/10). Kondisi seperti ini akhirnya membuat beban bunga yang ditanggung pemerintah meningkat.

Dengan posisi neraca perdagangan yang surplus, investor asing diharapkan melirik kembali pasar obligasi Indonesia dan berangsur-angsur tidak lagi meminta yield yang tinggi kepada pemerintah. "Kalau data neraca dagang terus mengalami surplus di bulan-bulan berikutnya, pemerintah bisa lebih memegang kendali dalam pelaksanaan lelang surat utang di waktu mendatang," ungkap Anil.

Anil pun yakin, penawaran yang masuk pada lelang yang menawarkan enam seri sukuk tersebut minimal bisa menyamai perolehan pada lelang sebelumnya. Pada lelang Sukuk yang dilaksanakan pemerintah pada 2 Oktober silam, penawaran yang masuk dari investor mencapai sekitar
Rp 10,39 triliun.

Namun, karena pelaku pasar masih diliputi ketidakpastian global, kemungkinan besar para investor masih akan memburu sejumlah seri bertenor pendek. Misalnya, seri PBS014, SPN-S03042019 serta SPN-S03072019.

Pergerakan IHSG
Pergerakan IHSG (kontan)

Kapitalisasi BBCA Naik Saat IHSG Loyo

Bursa saham terus melemah sepanjang tahun ini. Akibat penurunan tersebut, nilai kapitalisasi pasar saham kian terpangkas. Per Senin (15/10), kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) telah turun Rp 523 triliun dibanding akhir tahun lalu, menjadi Rp 6.470 triliun.

Tak hanya memangkas kapitalisasi pasar seluruh emiten, kapitalisasi 10 emiten dengan kapitalisasi terbesar juga turun cukup dalam. Jika ditotal, kapitalisasi pasar 10 emiten terbesar di bursa anjlok Rp 502 triliun jadi Rp 3.045 triliun. Ini artinya 10 emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar BEI ini mencapai 47,1% dari total kapitalisasi pasar. Namun porsi tersebut turun dari akhir tahun lalu, 50,7%.

Meski demikian, komposisi emiten yang menduduki 10 emiten dengan kapitalisasi terbesar hanya sedikit berubah (lihat tabel). Yang paling mencolok adalah kapitalisasi pasar PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Halaman
123
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved