Memacu Pertumbuhan Kredit: Para Bankir Memetakan Kondisi Ekonomi

Kalangan perbankan masih terus mencari cara meningkatkan kredit. Kondisi ekonomi yang masih belum stabil membuat bankir memang

Memacu Pertumbuhan Kredit: Para Bankir Memetakan Kondisi Ekonomi
kontan
Ilustrasi saham 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Kalangan perbankan masih terus mencari cara meningkatkan kredit. Kondisi ekonomi yang masih belum stabil membuat bankir memang tidak bisa berharap banyak hingga akhir tahun ini termasuk tahun 2019.

Namun bankir sudah memetakan faktor apa saja yang mempengaruhi pertumbuhan kredit pada tahun depan. Direktur Utama Maybank Indonesia Taswin Zakaria menjelaskan, pada tahun depan bank harus mengantisipasi kondisi likuiditas dan risiko kredit agar target pertumbuhan kredit bisa sesuai target. "Jika bank ingin kredit lebih kencang dari 2018, tapi likuiditas tidak ada maka ini akan menjadi tantangan," kata Taswin

Daniel Budirahayu, Direktur Utama Bank Ina Perdana, bilang, pada tahun depan bank memproyeksi pertumbuhan kredit akan flat. "Disebabkan karena likuiditas, risiko kredit dan tahun politik," kata Daniel.

Sementara Anggoro Eko Cahyo, Direktur Keuangan Bank BNI bilang, proyeksi pertumbuhan kredit pada 2019 kurang lebih akan setara dibandingkan 2018. "Kami mempunyai pengalaman di segmen bisnis banking dan trade fiannce serta basis nasabah yang luar dan loyal," kata Anggoro.

Baca: Bank BTPN Bantu Personel Polri

 

Meski berat, para bankir masih tetap optimistis. Misalnya Ferry Koswara, Direktur Bank of India Indonesia yang memproyeksi pertumbuhan kredit pada tahun 2019 antara 5%-10%.

Senada, Direktur Keuangan Bank Sahabat Sampoerna Henky Suryaputra mengatakan pada tahun depan bank masih melihat peluang untuk tumbuh dari sisi kredit. "Pertumbuhan sekitar 10%," kata Henky,

Begitu juga dengan Direktur Utama BKE Sasmaya Tuhleley optimistis, pertumbuhan kredit tahun depan masih sesuai target. "Seiring potensi konsumer, pensiunan, KPR yang masih besar," kata Sasmaya. Untuk mengatasi likuiditas bank akan mengandalkan pendanaan pasar modal dengan MTN dan obligasi. Sebagai gambaran, data Bank Indonesia rasio likuidtas perbankan sampai Agustus sebesar 96,5% atau naik dibandingkan periode sama tahun 2017 sebesar 91,6%.

Lelang Sukuk Bisa Marak Peminatnya

Di tengah kenaikan yield surat utang negara (SUN), pemerintah kembali menggelar lelang surat berharga syariah negara atau sukuk negara, pada Selasa (16/10). Ada potensi lelang kali ini kembali berlangsung ramai berkat sentimen positif dari surplusnya data neraca perdagangan Indonesia di September lalu.

Fixed Income Fund Manager Ashmore Asset Management Indonesia Anil Kumar mengatakan, data neraca perdagangan Indonesia bisa menjadi katalis positif bagi penyelenggaraan lelang sukuk kali ini. Walaupun di saat yang sama nilai tukar rupiah malah mengalami pelemahan.

Halaman
123
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved