Antrean Karena Sistem Log Book

Upaya melakukan imbauan dan ajakan kepada rumah makan dan restoran yang masih menggunakan gas bersubsidi LPG 3 kg, sudah dilakukan Pertamina.

Antrean Karena Sistem Log Book
TRIBUN MANADO/CHRISTIAN WAYONGKERE
Sales Executive LPG Pertamina Area Manado Parama Ramadh menjelaskan tentang tabung gas subsidi 3 kg dan memperkenalkan tabung gas non subsidi 5.5 kg 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Upaya melakukan imbauan dan ajakan kepada rumah makan dan restoran yang masih menggunakan gas bersubsidi LPG 3 kg, sudah dilakukan secara personal oleh sejumlah karyawan Pertamina Manado.

"Mengenai restoran dan rumah makan yang awalnya masih pakai 3 kg, sekarang sudah pakai 5.5 kg LPG non subsidi pasca diimbau saat sedang makan dan menjadi tempat langganan akhir mereka mau beralih," kata Sales Executive LPG Pertamina Area Manado Parama Ramadha memberi contoh, Kamis (11/10/2018).

Hal itu dia lakukan pada pelaku usaha makanan yang menjadi tempat langganannya.

Selain itu kata dia dari lingkungan terkecil juga bisa dilakukan, seperti di tempat laundry pakaian, kafe dan tempat yang sering ditongkrongin.

Pertamina tidak bisa dan berhak memberikan pengawasan, yang melakukan itu adalah pihak terkait di pemerintah yang mengeluarkan izin.

Masalah tabung gas bersubsidi 3 kg di tengah masyarakat membuat pihaknya bertindak dengan melakukan rapat dengan biro ekonomi, Disperindag dan Satpol PP provinsi Sulut dan Kota Manado.

Berdasarkan data yang telah disampaikan Pertamina Manado kepada pemerintah, hingga bulan September 2018 di Kota Manado distrinusi LPG 3 melebihi kuota pada angka 2.4 persen (lihat grafis).

Mengenai antrean di pangkalan dari bukan karena tidak ada stok ada, melainkan warga antri mengisi log book
berisi nama pembeli, alamat penggunaan untuk apa penggunaannya. "Log book ini dibuat oleh untuk melihat sejauh mana pembelian dan masyarakat yang membeli. Dengan kondisi mengisi log book menimbulkan antrean sehingga munculkan tanggapan tabung LPG susah, membuat panik warga," terangnya.

Langkah seperti ini dibuat karena di pangkalan susah ditugaskan untuk memfilter orang yang berhak dan tidak berhak mendapat LPG bersubsidi, sehingga jangan sampai muncul pemahaman LPG langka ketika melihat antrean di pangkalan.

Parama menekankan mengenai pengawasan gas bersubsidi ke sasaran apakah tepat atau tidak tepat atau jual kepada siapa, tidak ada regulasi baik auditor dan level Pertamina melakukannya sehingga di titik pangkalan sering jadi salah kaprah.

Halaman
12
Penulis: Christian_Wayongkere
Editor: Alexander Pattyranie
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help