Pendidikan Moral: Antara Harapan dan Kenyataan

Singkat cerita si anak dengan bangganya menceritakan bahwa hari itu dia tidak masuk sekolah atau bolos sekolah

Pendidikan Moral: Antara Harapan dan Kenyataan
Yanto Kristoforus Kansil 

Tajuk Tamu Yanto Kristoforus Kansil, Mahasiswa Sekolah Tinggi  Filsafat Seminari Pineleng

TRIBUNMANADO.CO.ID - Beberapa waktu lalu ketika berada di dalam angkutan umum, terdengar percakapan beberapa anak SMP yang dalam kondisi tak terkendali (baca: mabuk).

Singkat cerita si anak dengan bangganya menceritakan bahwa hari itu dia tidak masuk sekolah atau bolos sekolah dan hanya keluyuran sepanjang hari sambil menegak minuman keras bersama teman-temannya.

Percakapan antara si anak dengan temannya itu menimbulkan pertanyaan, apakah ia sadar dengan apa yang diperbuatnya? Atau inikah hasil pendidikan yang diperoleh di sekolah? Mungkinkah dia tidak diajari bagaimana harus berlaku sebagai pelajar yang bermoral baik?

Sekelumit pertanyaan ini muncul dipikiran dan spontan perasaan sedih, prihatin, kecewa, khawatir, melebur jadi satu melihat peristiwa tersebut.

 Realita siswa berlaku buruk tidak hanya berhenti di situ saja. Masih ada rentetan perilaku buruk yang dibuat, sebut saja ketidakjujuran dalam ujian (mencontek), tidak sopan, berkata kasar, berkelahi atau bentrok, dan sebagainya. Kenyataan ini menunjukkan bahwa sebenarnya pendidikan moral tidaklah berjalan sebagaimana mestinya.

Padahal bila melihat komposisi pelajaran yang diajarkan di sekolah, sebenarnya telah memuat pendidikan moral di dalamnya.

Antara lain Pendidikan Kewarganegaraan atau Pendidikan Pancasila, Pendidikan Agama dan Budi Pekerti. Namun sudahkah memadai itu semua? Semua jenjang pendidikan mengajarkan nilai-nilai moral dalam setiap pembelajarannya.

Apalagi implementasi kurikulum 2013 berorientasi pada penanaman nilai moral dan kepribadian yang matang dan seimbang dengan aspek kognitif. Akan tetapi, bila melihat kenyataan sekarang maka masih amat jauh harapan dan angan-angan itu dapat terwujud.

Penegasan ini tidak terutama mengeksploitasi pendidikan moral yang diajarkan oleh sekolah. Tetapi sebenarnya sekolah masih memiliki tanggung jawab yang amat besar bagi pendidikan moral pelajar.

Halaman
12
Editor: Aldi_Ponge
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved