Trump Curigai Google dan Facebook Manipulasi Data

Media sosial kembali mendapat sorotan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Ayah Ivanka Trump ini bahkan,

Trump Curigai Google dan Facebook Manipulasi Data
(ANDREW CABALLERO-REYNOLDS / AFP )
Presiden AS Donald Trump (ANDREW CABALLERO-REYNOLDS / AFP ) 

TRIBUNMANADO.CO.ID, WASHINGTON DC - Media sosial kembali mendapat sorotan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Ayah Ivanka Trump ini bahkan, menginstruksikan lembaga anti-trust dan penegakan hukum untuk melakukan penyelidikan ke induk Google, Alphabet, Facebook, serta berbagai media sosial lainnya.

Draft penyelidikan diketahui masih dalam tahap awal dan belum dilimpahkan ke lembaga manapun. Rancangan tersebut berisikan amanah ke otoritas anti-trust untuk melakukan investigasi menyeluruh, apakah ada platform media online yang melangggar Undang-undang Anti-trust.

Lembaga pemerintah lainnya diimbau untuk memberikan rekomendasi dalam satu bulan setelah draft ditandatangani, untuk menjaga persaingan dan mengatasi bias di platform online.

Draft tersebut meminta para lembaga federal untuk konsisten dengan undang-undang. "Karena peran penting mereka di masyarakat Amerika, maka penting untuk melindungi warga Amerika dari tindakan tidak kompetitif yang dilakukan oleh sebagian besar platform online," tulis draft tersebut.

Dilaporkan Bloomberg, sebagaima KompasTekno lansir, Senin (24/9/2018), wakil juru bicara Gedung Putih, Lindsey Walters mengatakan jika draft tersebut belumlah hasil resmi dari Gedung Putih.

Jika nantinya dokumen tersebut telah ditandatangani, maka mandat dari Trump ini menegaskan eskalasi konflik antara Trump dan media sosial seperti Google dan Facebook, yang ia anggap telah meredam suara konservatif.

Facebook
Facebook ()

Kendati demikian, dalam draft itu tidak disebutkan perusahaan mana yang dimaksud.

Melalui akun Twitter-nya, Trump yang tanpa menyertakan bukti, menuduh media sosial mendiskriminasi suara para Republikan atau Konservatif yang menjadi partai pengusung Trump.

Serba salah Sementara itu, para petinggi media sosial mengaku serba salah, usaha mereka untuk memberantas kekerasan di platform masing-masing justru kerap menimbulkan kesalahpahaman dengan para politikus, baik dari sayap kanan atau kiri.

Seperti yang dialami Twitter, bulan Juli lalu algoritma mikroblog itu diketahui membatasi pencarian profil pada politisi Republik.

Halaman
123
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help