Pemerintah Gaet Investor Singapura di Kendal

Pemerintah terus aktif menggaet investasi disektor perindustrian demi menghidupkan Kawasan Industri Kendal (KIK),

Pemerintah Gaet Investor Singapura di Kendal
Thinkstock/Nelosa
Ilustrasi asuransi 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Pemerintah terus aktif menggaet investasi disektor perindustrian demi menghidupkan Kawasan Industri Kendal (KIK), Jawa Tengah. Salah satu investor yang diincar berasal dari Singapura.

Menteri Perindustian, Airlangga Hartato, mengatakan belakangan ini pihaknya aktif menarik investor asal Singapura ke KIK, Jawa Tengah. "Saat ini, kami sudah memiliki lebih dari 43 tenant di KIK. Selanjutnya, kami fokus mengembangkan pusat pendidikan Politeknik Furnitur di kawasan tersebut," ungkap dia, Senin (24/9).

Menurut Menteri Airlangga, kedua negara sepakat memperkuat kerjasama di bidang pendidikan kejuruan, terutama untuk mengisi kebutuhan di sektor industri. "Guru dan dosen dari Indonesia telah dikirim untuk mengikuti program pelatihan vokasi di Singapura, seperti di bidang permesinan, pembangkit listrik dan teknik otomasi industri," pungkas dia.

Pembangunan KIK merupakan hasil kerjasama antara investor Indonesia dan Singapura. Kawasan industri terintegrasi pertama di Jawa Tengah itu diproyeksikan menyerap potensi investasi sebesar Rp 200 triliun. Pada tahap pertama, lahan yang akan digarap seluas 1.000 hektare dengan target 300 tenant dan menyerap tenaga kerja sebanyak 500.000 orang hingga tahun 2025.

"Untuk menjadi kawasan industri terpadu, pengembangan KIK direncanakan sampai tiga tahap, dengan total lahan seluas 2.700 hektare," terang Airlangga. KIK ini akan didukung dengan pengembangan zona industri, pelabuhan, fashion city dan permukiman.

 

Inovasi Produk Dongkrak Kontribusi Asuransi Jiwa

Bisnis asuransi jiwa syariah diprediksi masih tumbuh di tahun ini. Sejumlah perusahaan mengembangkan produk yang inovatif guna memacu pendapatan premi.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sampai Juli 2018, kontribusi bruto asuransi jiwa syariah naik 35,33% year on year menjadi Rp 7,89 triliun. Sementara kontribusi bruto asuransi umum syariah turun tipis jadi Rp 1,05 triliun.
"Hal ini karena produk asuransi jiwa syariah lebih banyak berkembang dibanding yang umum syariah," kata Ketua Umum Asosiasi

Asuransi Syariah Indonesia (AASI) Ahmad Sya'roni. AASI optimistis, sampai akhir tahun ini produk yang menyasar kalangan individu akan tumbuh tinggi, seiring dengan tingginya minat masyarakat terhadap produk unitlink syariah.

Penetrasi asuransi syariah pun diharapkan meningkat. "Saat ini penetrasi asuransi syariah belum beranjak di angka 5%, sedangkan cakupan pasarnya masih luas sekali. Hal inilah yang akan menjadi potensi untuk berkembang," harap Sya'roni.

Halaman
1234
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help