Penyebar Video Hoax Demo Ricuh di MK Didicuk Polisi

Petugas Direktorat Kriminal Khusus Polda Metro Jaya menangkap seorang pemuda berinisial SAA yang menyebarkan video hoaks

Penyebar Video Hoax Demo Ricuh di MK Didicuk Polisi
YOUTUBE
Fakta Sebenarnya soal Kerusuhan di Depan Mahkamah Konstitusi 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Petugas Direktorat Kriminal Khusus Polda Metro Jaya menangkap seorang pemuda berinisial SAA yang menyebarkan video hoaks mengenai aksi mahasiswa yang ricuh di depan Mahkamah Konstitusi (MK) pada Jumat (14/9). Video itu diketahui sempat viral di media sosial.

Padahal, kejadian sebenarnya adalah Simulasi Pelaksanaan Ops Mantap Brata yang dilaksanakan Polri dan TNI untuk persiapan pengamanan menghadapi Pemilu 2019.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Argo Yuwono membenarkan hal tersebut. "Iya (sudah ditangkap)," ujar Argo saat dikonfirmasi, Minggu (16/9) kemarin.

Meski begitu, Argo belum bisa merinci identitas pelaku. Pelaku berjumlah satu orang yang hingga kini masih dilakukan pemeriksaan intensif di Ditreskrimsus PMJ. "Jumlahnya satu (pelaku)," jelasnya.

Sebelumnya, beredar video seakan-akan terjadi kericuhan di sekitar gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Jumat, 14 September 2018. Padahal, kegiatan di depan MK tersebut merupakan simulasi pengamanan Pemilu 2019. Namun di media sosial beredar seakan-akan kericuhan benar terjadi.

Video hoaks tersebut sempat beredar di media sosial facebook hingga WhatsApp Group pada Jumat, 14 September lalu. Padahal, yang terjadi adalah yang sama Polri dan TNI melakukan simulasi pengamanan gedung MK menjelang Pemilu 2019.

Polri menyebut kegiatan video simulasi itu di-edit dan 'digoreng' di media sosial menjadi seakan-akan ada demo ricuh di sekitar MK dan Istana Kepresidenan.

Polisi sudah menetapkan SAA sebagai tersangka dengan sangkaan melanggar Pasal 14 dan Pasal 15 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan/atau Pasal 28 ayat 2 juncto Pasal 45A ayat 2 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

SAA diduga menyiarkan atau mengeluarkan pemberitahuan bohong dan/atau menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian terhadap individu atau kelompok berdasarkan antargolongan.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menyatakan, SAA yang beralamat di Tanjung Barat, Jakarta Selatan, ditangkap di sebuah warung kopi tidak jauh dari rumahnya, pada Sabtu, 15 September 2018.

Halaman
12
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help