Hamdi Siap Mati usai Habisi Istri: Sakit Hati Korban Pulang Dini Hari

Motif pembunuhan ibu di Desa Ayong, Kecamatan Sangtombolang, Kabupaten Bolaang Mongondow kian terang.

Hamdi Siap Mati usai Habisi Istri: Sakit Hati Korban Pulang Dini Hari
tribun manado
Hamdi Derek mendekam di balik jeruji besi sel tahanan Mapolres Bolmong, Rabu (12/9/2018). 

TRIBUNMANADO.CO.ID, LOLAK – Motif pembunuhan ibu di Desa Ayong, Kecamatan Sangtombolang, Kabupaten Bolaang Mongondow kian terang. Hamdi Derek (43) mengaku menghabisi istrinya Sunanti Mamonto (35) lantaran sakit hati. Ia cemburu wanita yang dicintainya itu kerap pulang tengah malam dibonceng pria lain. Kini Hamdi sudah pasrah. Ia siap menjalani hukuman, sekalipun ditembak mati. Kata tersangka, dia akan tetap mengingat kebaikan istrinya dulu.

Kehidupan Hamdi dan Ati, sapaan istri, awalnya terbilang bagus. "Dulunya bagus. Saat saya pulang (kerja) disambut dengan baik. Waktu saya sampaikan bahwa saya sudah sakit, ia tidak mau lagi. Memang katanya akan diobati. Setahun belakangan ini sudah tidak bagus lagi. Bahkan ketika saya telepon dia marah. Kami menikah sudah 9 tahun," ujar tersangka ketika diwawancarai tribunmanado.co.id di Mapolres Bolmong, Rabu (12/9/2018).

HD menceritakan rasa cemburu kepada istri muncul setelah beberapa kali kedapatan sang istri naik sepeda motor berboncengan dengan lelaki lain. "Saya coba memberikan nasehat tapi istri saya tetap mengatakan tidak. Meski saya sudah sakit, istri saya tetapkan katakan tidak. Saya yang buka pintu setiap kali istri saya pulang. Ada laki-laki lain yang bonceng istri saya pulang jam satu malam," ujarnya.

Kata tersangka, jika ia punya motor dan mau membuntuti istrinya, pasti akan mendapati bukti perselingkuhan itu. "Namun sudah tidak sampai begitu. Sudah empat kali istri saya pulang amper (hampir) siang (dini hari)," katanya.

HD juga mengaku tertidur pulas di dalam sel semalam. "Tadi malam saya tidur seperti biasa. Kalau sudah terjadi kami tidak akan ingkar. Yang sudah terjadi biarlah terjadi. Saya sudah terima semua yang terjadi," ujar dia.

Lanjut HD, kejadian penganiayaan kemarin ini tiba-tiba terjadi secara spontan. "Yang terjadi sudah terjadi. Mau menyesal sudah terjadi. Tidak boleh. Harus terima. Saya siap menjalani hukuman. Mau berapa puluh tahun, ataupun ditembak mati saya rela, karena sudah terjadi," ujar dia.

Kasat Reskrim Polres Bolmong, AKP Ronny Maridjan mengatakan, tersangka melanggar Pasal 338 KUHP. "Ancaman hukumannya di atas lima tahun," ujar dia.

Pihak keluarga korban mengatakan, sangat terpukul dengan kejadian itu. Mereka mengutuk keras pelaku yang merupakan suami dari korban.

"Yah, yang pasti terpukul dari pihak keluarga. Mengutuk suami korban dihukum dengan seadil-adilnya biar setimpal," kata Lilis Suriani Mamonto, tante almarhum.

Ia mengatakan, sosok almarhum ialah suka bergaul dan selalu aktif pada semua kegiatan kemasyarakatan di desa. Semua teman-teman almarhum memandangnya sebagai orang yang baik, ramah dan aktif setiap kali ada kegiatan kemasyarakatan.

Menurut keterangan para tetangga, bahwa korban dan tersangka tidak pernah terdengar permasalahan sampai cekcok. Korban meninggalkan lima orang anak yang masih bersekolah. Diketahui juga, Ati dipercayakan sebagai aparat desa, kepala RT V di desa setempat.

Tersangka Hamdi dikenal juga baik, tapi ia jarang bersosialisasi dengan masyarakat sekitar bahkan keluarga.
Lilis menambahkan, Afgan yang jadi saksi saat melaporkan kejadian kepada kakeknya sudah aktif dan bermain seperti biasa.

Sementara, anak kembar dari korban sampai tadi malam masih sedih dan terpukul dengan kejadian yang menimpa ibunya. "Yang kami khawatirkan adalah ayah almarhum Sunarti yang masih terlihat sedih atas kejadian tersebut. Makanya kami keluarga terus memberikan penghiburan dan penguatan," ujar Lilis.

Sekdes Desa Ayong, Julham Damopolii mengatakan, peristiwa itu sempat menggemparkan warga sekitar.

Sebab kata Julham, peristiwa ini baru pertama terjadi dan sangat tragis. Dia mengaku sempat tak percaya jika korbannya adalah seorang aparat desa yang dipercayakan sebagai kepala dusun.

Julham juga memberikan apresiasi atas langkah cepat aparat kepolisian yang cepat mengamankan pelaku dan dibawa ke Polres Bolmong. "Tersangka kurang bersosialisasi makanya sulit memahami sikap atau perilaku tersangka seperti apa," tuturnya.

Kata dia, aktivitas tersangka kandang sebagai pengumpul atau pembeli kopra. Pekerjaannya serabutan, baik membeli kopra, panen cengkih, pergi ke tambang, dan lainnya. Tersangka baru seminggu lalu kembali dari bekerja memetik cengkih di Bolaang Mongondow Timur. Tersangka berasal dari Boltim.

Masalah ini muncul tiba-tiba. "Saya kaget, bahkan para tetangga korban tak tahu ada kejadian seperti ini. Nanti subuh-subuh baru heboh. Saya tahu dan dengar tiba-tiba ada kejadian pembunuhan oleh Hamdi yang adalah suami korban Sunarti," katanya.

Hingga kini kasus tersebut terus didalami penyidik. Tersangka terus diintrogasi di ruangan penyidik Polres Bolmong guna untuk mendapatkan keterangan. Dugaan sementara motif dari kejadian itu karena dipicu api cemburu tersangka terhadap korban.

Kadis DP3A Minta Keluarga Sabar

PEMBUNUHAN di Desa Ayong mengundang reaksi dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Bolmong.

Peristiwa yang terjadi Selasa (11/9/2018) sekitar pukul 01.30 Wita itu, menyebabkan Sunarti Mamonto (35) tewas dengan luka tusuk di bagian perut.

Kepala DP3A Bolmong, Farida Mooduto mengatakan, mengutuk keras tindakan pelaku. "Mengutuk keras perbuatan pelaku dan meminta agar dihukum seberat beratnya," ujar Farida kepada tribunmanado.co.id, Rabu kemarin.

Ia mengaku sedih atas kejadian ini. Menurutnya, tak habis pikir mengapa seorang suami tegah membunuh istri. DP3A akan mengawal kasus ini sampai selesai dan berharap kejadian serupa tak terjadi lagi di Bolmong.

"Kami akan memberikan pendampingan hukum kepada keluarga korban. Selanjutnya kepada keluarga untuk tetap sabar dan memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada petugas yang berwajib dalam memproses kasus penganiayaan sampai terbunuhnya korban," tutupnya.

Sangadi Ayong Jibral Van Gobel meminta petugas untuk memberikan hukuman berat kepada tersangka. "Pemerintah desa juga meminta seluruh masyarakat untuk tidak melakukan hal-hal yang akan berhadapan dengan hukum serta menjaga keamanan desa," ungkapnya.

Ia menambahkan, almarhum Sunarti dan tersangka Hamdi diketahui tak pernah terdengar adanya permasalahan. Bahkan menurut para tetangga, kehidupan keluarga mereka normal sama seperti keluarga lainnya.

Para tetangga tak pernah mendengar adanya masalah keluarga di antara mereka berdua. Farida juga turut hadir saat pemakaman almarhum kemarin sekaligus mewakili pemerintah bersama Sangadi Desa Ayong Jibral Van Gobel.

Orley Charity Sualang
Orley Charity Sualang (ISTIMEWA)

Orley: Kurangi Kecemasan Anak

Kekerasan di dalam rumah tangga yang dilihat anak bisa menimbulkan trauma. Menurut psikolog, Orley Charity Sualang SPsi MA, ada beberapa langkah yang perlu dilalukan untuk mengatasi trauma.

"Pertama anggota keluarga perlu melakukan pendekatan yang baik kepada anak ketika berbicara tentang kejadian atau peristiwa kekerasan itu," ucapnya ketika dihubungi tribunmanado.co.id, Rabu (12/9/2018).

Selanjutnya, anggota keluarga perlu meyakinkan si anak bahwa ia sekarang aman karena bersama dengan keluarganya. Anggota keluarga juga bisa memberitahu kepada anak tentang cara menciptakan keamanan dalam keluarga.

"Ketiga berikan perhatian ekstra kepada anak dan kemampuan mendengar aktif untuk mengurangi rasa kecemasan atau ketakutan pasca kejadian KDRT," tuturnya.

Langkah keempat adalah bantu si anak untuk mengungkapkan perasaannya serta berikan empati yang tinggi kepadanya guna mengurangi kegelisahan atau stres yang dia alami. Diberikan informasi yang benar apabila anak salah paham tentang kejadian KDRT.

Lalu berikan kasih sayang yang penuh pada anak dan tunjukkan keteladanan dalam hal penguasaan diri ketika mengalami masalah, sehingga anak belajar utk mengontrol perasaan mereka.

"Yang terakhir dekatkan diri anak dengan Tuhan melalui ibadah dan ajak anak melihat hikmah dari suatu peristiwa yang terjadi," bebernya.

Sedangkan untuk tips orang tua yang mengalami perselisihan dalam rumah tangga hendaknya jangan melibatkan anak-anak. Untuk itu, Orley berpesan agar melakukan tiga langkah ini.

"Perselisihan yang terjadi antara ibu dan ayah tidak boleh disaksikan oleh si anak karena akan berdampak buruk pada psikis anak. Anak akan bertumbuh menjadi orang yang agresif atau bahkan sebaliknya menjadi tidak percaya diri, juga secara fisik anak akan sering sakit," aku dia.

Lalu jangan lampiaskan kemarahan ortu kepada anak. Apabila itu terjadi dapat menyebabkan anak mengalami gangguan belajar dan membuat anak memiliki kepribadian pemarah karena meniru pola perilaku dari orang tuanya.

"Orang tua juga harus belajar untuk mengontrol emosi atau penguasaan diri ketika mengalami masalah dalam rumah tangga," tegasnya. (nie/kel/dik/kel)

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved