Kasus Rumah Pak Eko Tak Punya Akses Jalan: Komunikasi Buntu, Kehidupan Bertetangga pun Runyam

Sebuah rumah di Kampung Sukagalih, Desa Pasirjati, Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung, menjadi pembicaraan hangat.

Kasus Rumah Pak Eko Tak Punya Akses Jalan: Komunikasi Buntu, Kehidupan Bertetangga pun Runyam
tribunjabar/syarif pulloh anwari
Rumah Pak Eko yang terkepung 

Pribahasa Rusia mengatakan “don't buy the house, buy the neighborhood”. Ungkapan itu menunjukkan betapa pentingnya hidup kebersamaan dalam bertetangga.

Jangan salah, sebab temuan dari penelitian yang dimuat di Proceedings of the Nation Academy of Sicence (PNAS) tahun 2014 mengatakan, bertetangga dengan siapa dan bagaimana lingkungan kita, sangat kuat pengaruhnya terhadap kebahagian.

Baca: Rusia dan China Gelar Latihan Perang Terbesar, Diikuti 300.000 Tentara dan 36.000 Kendaraan Militer

Kehidupan bertetangga mencakup 2/3 dari faktor kenapa seseorang merasa bahagia.

Masalahnya, tak tak semua orang dalam komunitas bertetangga bisa menerima segala perbedaan atau kekurangan tetangganya sendiri.

Apalagi di zaman sekarang, yang interaksi dengan tetangga terbilang minim karena satu dan lain hal.

Misalnya, ketersediaan waktu karena faktor pekerjaan. Hal seperti inilah yang terkadang mengancam keharmonisan bertetangga. Nah, bagaimana semestinya kita menyikapinya?

Jangan langsung berasumsi

Tak sedikit orang menganggap kehidupan bertangga dulu dekat dan berkesan. Nuasanya lebih menyenangkan, lebih guyub.

Namun, benarkah nilai-nilai kehidupan bertangga di zaman ini telah memudar, bahkan mengalami pergesaran makna? Amat disayangka memang jika nilai kebersamaan dan kepedulian  dalam bertentetangga telah terdegradasi.

Nah, bagi Anda yang berprasangka demikian, tahan dulu. Jangan dulu berpikiran negatif.

Halaman
1234
Editor: Aldi_Ponge
Sumber: Grid.ID
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved