Kasus Pembunuhan Kaki Dian Minut Terungkap

"Karena saksi Yulianti sering mengintip, tersangka dan korban berpindah ke gubuk yang agak jauh, dan saat itu hape korban berbunyi,"

Kasus Pembunuhan Kaki Dian Minut Terungkap

Laporan Wartawan Tribun Manado David Manewus

TRIBUNMANADO.CO.ID - Sofianti Andrinael (15), ditemukan tewas mengenaskan di objek wisata Kaki Dian Minahasa Utara (Minut), Selasa (17/07/2018).

Warga menemukannya karena bau busuk yang tercium di sekitar penemuan lokasi jenasah.

Setelah dilakukan penyelidikan, kronologi pembunuhan Sofianti dimulai Senin 18 Juni 2018 pukul 23.30.

Tersangka Nofry Jhon Damisi bertemu dengan korban di Pasar Kawangkoan kemudian menuju ke Ruko 88 Airmadidi.

Mereka bersama saksi Yulianti Gonta bertemu dengan saksi Adlin Erangan.

Yulianti dan Adlin mengajak tersangka dan korban pergi ke perbukitan Kaki Dian.

Setibanya di situ, mereka duduk berpasang-pasangan di tempat yang berbeda.

Tersangka bersama korban dan Yulianti bersama Adlin.

"Karena saksi Yulianti sering mengintip, tersangka dan korban berpindah ke gubuk yang agak jauh, dan saat itu hape korban berbunyi," kata Kepala Kepolisian Resort Minahasa Utara, AKBP Alfaris Pattiwael, Rabu (12/9/2018) saat rilis pers ditemani Kasat reskrim AKP Aprizal Nugroho SIK dan Aiptu M Pontoh

Alfaris mengatakan saat hape korban diangkat terdengar seorang lelaki yang mengatakan kata "sayang".

Itu didengar tersangka dan membuatnya sakit hati.

Tersangka lalu merampas hape korban dan terjadi pertengkaran.

Saat Julianti dan Adlin datang, tersangka mengembalikan hape kepada korban dan korban memberikannya kepada Yulianti.

Yulianti mengajak mereka pulang dengan berpasangan di sepeda motor.

Tersangka dan korban 15 meter lebih dahulu di depan teman tersangka dan korban.

Korban tiba-tiba ingin turun dari sepeda motor karena rem dianggap tidak berfungsi dan cahaya redup, mereka cekcok karena itu.

"Tersangka tidak menghiraukan dan pada akhirnya tidak dapat mengendalikan laju sepeda motor sehingga keluar dari jalur dari jalan raya dan jatuh ke tebing. Tersangka dan korban terpisah juga karena suasana gelap," kata Alfaris.

Tersangka lalu mencari korban merayap dan meraba-raba.

Setelah menemukan korban yang sudah tidak berdaya, tersangka mendekatkan telinga ke hidung korban untuk memastikan korban masih hidup dan ternyata korban masih bernafas.

Saat itulah, timbul niat tersangka untuk menghabisi nyawa korban.

Ia takut perbuatan "selingkuhnya" diketahui pacarnya (pacar lain) yang sudah hamil delapan bulan, ditambah rasa cemburu dan cara menghindar dari tanggungjawab akibat kecelakaan tersebut.

Tersangka meraba-raba sekitar, menemukan sebuah batu dan melepaskan ke dahi korban.

Korban sempat berteriak "ahh" dan memiringkan  ke kiri.

Tersangka langsung pergi meninggalkan lokasi kejadian, pulang melalui jalan raya dan di situ pula tersangka mendapatkan tumpangan kontainer dan pulang ke rumahnya.

Penulis: David_Manewus
Editor: Indry Panigoro
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved