Begini Cara Mengatasi Trauma Anak Pasca-KDRT Menurut Psikolog

Kejadian kekerasan yang terjadi di dalam rumah tangga ketika dilihat oleh anak bisa menimbulkan trauma

Begini Cara Mengatasi Trauma Anak Pasca-KDRT Menurut Psikolog
Istimewa
Orley Charity Sualang, S.Psi, MA 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Kejadian kekerasan yang terjadi di dalam rumah tangga ketika dilihat oleh anak bisa menimbulkan trauma.

Menurut Psikolog Orley Charity Sualang, S.Psi, MA ada beberapa langkah yang perlu dilalukan untuk mengatasi trauma tersebut.

"Pertama anggota keluarga perlu melakukan pendekatan yang baik kepada anak ketika berbicara tentang kejadian atau peristiwa kekerasan tersebut," ucapnya ketika dihubungi Tribun Manado, Rabu (12/9/2018).

Selanjutnya anggota keluarga perlu meyakinkan si anak bahwa ia sekarang ini aman, karena bersama dengan keluarganya. Anggota keluarga juga bisa memberitahu kepada anak tentang cara menciptakan keamanan di dalam keluarga.

Baca: Kapolres Bolmong Pastikan Kasus KDRT ‘Setrika Menempel di Wajah’ Diproses Hukum

"Ketiga berikan perhatian extra kepada anak dan kemampuan mendengar aktif untuk mengurangi rasa kecemasan atau ketakutan pasca-kejadian KDRT," tuturnya.

Langkah keempat, bantu si anak untuk mengungkapkan perasaannya serta berikan empati yang tinggi kepadanya, guna mengurangi kegelisahan atau stres yang dia alami dan berikan informasi yang benar apabila anak salah paham tentang kejadian KDRT.

Lalu berikan kasih sayang yang penuh pada anak dan tunjukkan keteladanan dalam hal penguasaan diri, ketika mengalami masalah, sehingga anak belajar untuk mengontrol perasaan mereka.

"Yang terakhir dekatkan diri anak dengan Tuhan melalui ibadah, dan ajak anak melihat hikmah dari suatu peristiwa yang terjadi," bebernya.

Sedangkan untuk tips orangtua yang mengalami perselisihan dalam rumah tangga, hendaknya jangan melibatkan anak-anak. Untuk itu Orley berpesan agar melakukan tiga langkah ini.

Baca: 7 Penyebab Stres pada Remaja, Mulai Hubungan dengan Lawan Jenis hingga Masalah Keluarga

"Perselisihan yang terjadi antara ibu dan ayah tidak boleh disaksikan oleh si anak, karena akan berdampak buruk pada psikis anak. Anak akan bertumbuh menjadi orang yang agresif atau bahkan sebaliknya menjadi tidak percaya diri, juga secara fisik anak akan sering sakit," kata dia.

Lalu jangan lampiaskan kemarahan orangtua kepada anak. Apabila itu terjadi dapat menyebabkan anak mengalami gangguan belajar dan membuat anak memiliki kepribadian pemarah karena meniru pola perilaku dari orangtuanya.

"Orangtua juga harus belajar untuk mengontrol emosi atau penguasaan diri ketika mengalami masalah dalam rumah tangga," tegasnya. (nie)

Penulis: Nielton Durado
Editor: David_Kusuma
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved