'Setengah Hati' Demokrat di Pilpres

Partai Demokrat dianggap setengah hati mendukung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam Pilpres 2019 mendatang,

'Setengah Hati' Demokrat di Pilpres
Tribunnews.com/Vincentius Jyestha
Komandan Kogasma Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Partai Demokrat dianggap setengah hati mendukung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam Pilpres 2019 mendatang, usai sejumlah kadernya menyatakan mendukung Jokowi-Kiai Maruf Amin.

"Ini imbas dari kekecewaan Demokrat pada Prabowo karena tidak memilih AHY sebagai cawapresnya. Akhirnya Demokrat setengah hati dan setengah badan mendukung Prabowo-Sandi," kata pengamat politik Universitas Al Azhar Indonesia Jakarta, Ujang Komarudin, Senin (10/9).

Di sisi lain, ia menilai Demokrat memang tengah menghadapi suatu dilema. Lantaran para kadernya yang terang-terangan mendukung Jokowi.  Bila mereka yang mendukung Jokowi diberi sanksi, Ujang menyebut bisa saja partai Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu justru pecah. Bahkan, bisa ditinggalkan para kadernya.

Demokrat, menurutnya  lebih fokus memenangkan sejumlah kader di Pileg dan memberi dispensasi bagi para kader yang mendukung Jokowi.  "Ujung-ujungnya kader-kader Demokrat itu akan berjuang memenangkan Demokrat di Pileg. Dan setengah hati di Pilpres," kata Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) itu.

Ujang juga menyebut langkah ini sebagai persiapan Demokrat dalam mengamankan posisi AHY di Pilpres periode 2024-2028.  "Tentu dengan mengamankan suara di daerah, perolehan suara Demokrat akan naik. Dan sudah pasti itu untuk memastikan dan mengamankan AHY untuk bergelora dan berjaya di Pilpres berikutnya," pungkasnya.

Bakal calon presiden Prabowo Subianto dan wakilnya Sandiaga Uno di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, Senin (13/8/2018).
Bakal calon presiden Prabowo Subianto dan wakilnya Sandiaga Uno di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, Senin (13/8/2018). (KOMPAS.com/Ihsanuddin)

Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief keberatan disebut bermain dua kaki pada Pilpres 2019 karena membiarkan beberapa DPD mendukung lawan, yaitu pasangan Jokowi Kiai Maruf Amin. Andi lalu menyinggung PAN dan PKS. 

"Main dua kaki: pilpres dukung Prabowo tapi ikut jadi menteri Jokowi. Artinya membicarakan diri sendiri ketimbang menganggap strategi Demokrat adalah dua kaki. Perlu dicatat, Demokrat butuh mempertahankan kemenangan pileg di Papua," sindir Andi.

Ketua Bidang Advokasi dan Hukum Demokrat Ferdinand Hutahaean mengungkapkan, pengurus Demokrat di Papua mendapatkan disepansasi khusus untuk mendukung pasangan Jokowi-Ma'ruf.

Wakil Ketua Dewan Pembina Demokrat Agus Hermanto kemudian memastikandispensasi pengurus Demokrat di Papua berkaitan dengan Pemilu legislatif 2019.

Agus menjelaskan, mayoritas masyarakat di Papua mendukung Jokowi, dan  Pemilu di Papua menggunakan sistem Noken.  "Partai Demokrat sedang menentukan strategi untuk seperti apa dalam case seperti papua ini karena kita juga dalam pemilu legislatif harus sukses betul. Jangan sampai ada hal menjadi kendala di pemilu legislatif," kata Agus kemarin.

Halaman
12
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved