Pilpres 2019

Partai Demokrat Sulut Dukung Jokowi-Ma’ruf, Vicky Lumentut: Keputusan dari 15 Dewan Pimpinan Cabang

Partai Demokrat Sulawesi Utara memilih dukung pasangan capres-cawapres Joko Widodo-Ma’ruf Amin

Partai Demokrat Sulut Dukung Jokowi-Ma’ruf, Vicky Lumentut: Keputusan dari 15 Dewan Pimpinan Cabang
KOLASE TRIBUNMANADO/ARTHUR ROMPIS/KOMPAS
Jokowi, Ma'ruf Amin dan Ketua DPD Partai Demokrat Sulut Vicky Lumentut 

"Prabowo kembali dizalimi, tapi kita lihatlah, justru simpati akan datang kepadanya," kata Buff pendukung setia Prabowo dari Sonder.

Baca: Erick Thohir Jadi Ketua Timses Jokowi-Maruf, Inilah Deretan Pabrik Uangnya

Mitra koalisi Demokrat lainnya, PAN Sulut tak bisa berbuat banyak.

Menurut Ayub Ali Albugis, Sekretaris DPW PAN Sulut, tiap partai punya arah.

"Kami tidak bisa bicara banyak dan berbuat banyak soal keputusan Partai Demokrat. Masing-masing partai akan mendapat petunjuk," kata dia.

Walaupun kata Ayub, secara legitimasi, Demokrat mendukung Prabowo-Sandi.

"Itu nanti Partai Demokrat yang dapat arahan dan petunjuk," ujar Anggota DPRD Sulut ini.

Sampai saat ini, PAN bersama koalisi partai di Sulut belum membicarakan struktur tim pemenang.

"Sampai saat ini tim kampanye nasional sudah terbentuk, tapi di daerah belum dapat petunjuk untuk membentuk tim per provinsi hingga kabupaten kota," kata dia.

Daerah sifatnya menunggu. Kata Ayub, biasanya di Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PAN akan diundang DPP untuk mendapat petunjuk teknis bersama gabungan partai pendukung lain.

"Termasuk dengan pembekalan saksi, dalam waktu dekat ini kemungkinan sesudah pengumuman daftar calon tetap legislatif," ujar dia.

Baca: Erick Thohir Jadi Ketua Tim Sukses Jokowi, Baju Seragam & Foto Istri Cantiknya Jadi Viral

Ketua DPW PKS Sulut, Syarifudin Saafa menyatakan, sikap PD Sulut yang mendua bukan pendidikan politik yang baik.

"Kalau kami sih menganggap itu urusan Demokrat, tapi kami menilai itu bukan pendidikan politik yang baik," kata dia.

Saafa menyatakan, sikap Demokrat itu nantinya akan dinilai oleh rakyat. Mengenai sikap PKS Sulut, sebut dia, tetap konsisten mendukung Prabowo-Sandi.

"Kalau kami katakan A tetap A, karena kami partai bermartabat, " kata dia. Dikatakan Saafa, pihaknya masih menanti arahan pusat untuk gerakan mendukung pasangan Prabowo-Sandi di Sulut.

Baca: Daftar Politisi Demokrat yang Dukung Jokowi-Maruf Amin di Pilpres 2019

Kader PAN Sulut, Tatong Bara mengatakan, partai politik seharus tegak lurus. Kalau ada kader yang tidak patuh sebaiknya di luar gerbong saja.

Wali Kota Kotamobagu terpilih ini menanggapi adanya kader parpol yang membelot untuk mendukung calon dari partai lain.

Menurut Tatong, dalam parpol itu hanya ada dua pilihan.

"Yang pertama kalau patuh di dalam gerbong. Tidak patuh itu di luar gerbong," ujar Tatong kepada Tribun Manado, Senin (10/9/2018).

Lanjut Tatong, kalau parpol itu seharusnya tegak lurus. "Ini yang harus ditegakkan sehingga harus tertib dalam perintah partai," ujar Tatong.

Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey
Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey (Tribun manado/Arthur Rompis)

Olly Dondokambey: Kerja Lebih Ringan

Ketua DPD PDIP Sulut, Olly Dondokambey, menyambut dengan tangan terbuka dukungan partai di luar koalisi pendukung Jokowi-Ma'ruf.

Demikian disampaikan menanggapi marak kabar dukungan 'dua kaki' Demokrat di Pilpres 2019.

"Kalau saya terima kasih. Iya dong. PDIP partai pengusung utama, Pak Jokowi-Ma'ruf kalau ikut dukung kami berterima kasih, apalagi saya Ketua DPD PDIP, wah, lebih ringan kerjanya," ujar Olly dengan nada santai sembari tersenyum.

Hanya saja, kata Olly, partai yang di luar koalisi resmi pendukung Jokowi-Ma'ruf harus konsolidasi sendiri dan terpisah dari tim kampanye yang dibentuk koalisi partai dimotori PDIP.

"Ketua tim kampanye nanti ditentukan pusat, tapi struktur ke bawah akan ditentukan proposional, misalnya posisi sekretaris PDIP, kemudian ada juga dari partai koalisi lain," ujar dia.

Karena bukan pengusung resmi Jokowi-Ma'ruf, Demokrat tentu tak akan masuk struktur tim kampanye.

"Tidak mungkin masuk kan bukan partai yang resmi mendukung," ujar Gubernur Sulut ini.

Baca: Hasil Survei LSI: Jokowi-Maruf Unggul dari Prabowo-Sandiaga di Kalangan Pengguna Medsos

Wakil Ketua DPD PDIP Sulut, Steven Kandouw menilai wajar dukungan dari partai di luar koalisi. Sepertinya mereka sudah membaca 'arah angin' kemenangan ke arah yang tepat.

Namun, menurut Steven, tak serta merta menyatakan dukungan lalu masuk tim koalisi. "Kalau menurut saya, partai di luar koalisi harus konsolidasi sendiri, supaya bisa dilihat apa betul-betul mendukung atau tidak," kata Wakil Gubernur Sulut ini.

Menguntungkan Demokrat Sulut

Pengamat pemerintahan Marthen Kimbal mengatakan, politik ‘dua kaki’ terjadi karena kelemahan aspek politik sehingga sejumlah kader Demokrat memilih Jokowi-Amin. Padahal Demokrat dengan bulat dan lantang mendukung Prabowo-Sandi.

"Ya inilah politik, untuk kepentingan, cari keuntungan dan kekuasaan. Dan strategi seperti ini tidak kuat untuk partai Demokrat Sulut yang mau ikut mendukung Jokowi padahal strategi Prabowo-Sandi juga sangat kuat," terang Kimbal.

Menurut dia, dalam berpolitik harus tegas jika diperhadapkan pada pilihan, harus tegas memilih A, B atau C bukan main ‘dua kaki’. "Dalam politik ada dua hal, pertama hati dan konsisten, akhirnya muncul muncul pemikiran terserah mau pilih A atau B," kata dia.

Demokrat Sulut tidak akan untung. "Tidak ada gunanya metode seperti itu, kalau menang di Pemilu 2019 Demokrat harus berjuang banyak," tambahnya.

Baca: Hasil Survei LSI: Pengguna Media Sosial Lebih Kritis ke Jokowi

Taufik Tumbelaka, pengamat politik lainnya, menilai tidak bulat utuhnya dukungan Demokrat dalam Pilpres 2019 sudah diprediksi.

Khusus di Sulut nampaknya lebih kepada menjaga harmoni politik, dikarenakan adanya faktor Olly Dondokambey Gubernur Sulut sekaligus Bendahara Umum DPP PDIP yang saat ini berkuasa dengan pengaruh politik sangat kuat.

"Para elite Demokrat di Sulut terkesan sungkan berseberangan dengan Olly dalam hal dukungan pilpres. Apalagi Demokrat di Sulut secara posisi politik masih belum bisa berbuat banyak terhadap PDIP Sulut," urai Taufik.

Menjaga harmoni politik maka akan menguntungkan Demokrat Sulut karena membuat komunikasi politik ke depan akan lebih baik sehingga secara politik dan pemerintahan akan lebih nyaman.

Sisi lainnya dengan adanya politik kompromi yang dilakukan Demokrat Sulut juga membuka peluang lebih dalam kepentingan politik ke depan termasuk pemilihan gubernur.

Walaupun inipun tidak otomatis pasti terjadi karena dinamika politik bisa saja berubah sesuai perkembangan kontelasi politik jelang pilgub.

"Kangkah Demokrat Sulut saat ini paling tidak sudah membuat upaya pencapaian target politik ke depannya," kata dia.

Namun semua akan menyulitkan Demokrat Sulut jika nantinya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) ada tim pemenangan Prabowo-Sandi.

"Ada sisi khususnya dari pertarungan Pilpres 2019 yang terjadi di Sulut yaitu akan juga pertaruhan reputasi PDIP Sulut terkait faktor Olly. Karena jika terjadi kekalahan Jokowi di Sulut berimbas kepada reputasi PDIP Sulut dan Olly di konstelasi politik internal parpol dan berpotensi akan berimbas pula dengan peta politik di Sulut," tandasnya

Baca: Hasil Survei LSI: Jokowi-Maruf Unggul di Facebook, Prabowo-Sandi di Instagram dan Twitter

Posisi Tawar Lemah

Stevanus Sampe PhD, Pengamat Pemerintahan lulusan University of Canberra, menilai sikap dua kaki dari Partai Demokrat menghadapi Pilres 2019 memperlihatkan bahwa partai ini tidak memiliki platform dan agenda yang jelas.

Dari awal sebelum pencalonan, ketua umum (PD) sudah menyatakan akan netral, tetapi kemudian terlibat dalam tawar menawar capres-cawapres.

PD mencoba menawarkan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) kepada kedua kubu (Jokowo dan Prabowo Subianto) yang pada akhirnya tawaran tidak diakomodir oleh kedua kubu.

Memperlihatkan bahwa partai ini lemah posisi tawarnya. Dipandang oleh kedua kubu tidak ada apa-apanya. Tidak punya pengaruh untuk mengumpulkan suara.

Dengan tidak adanya platform yang jelas mengakibatkan partai ini tidak konsisten dengan perjuangan politik mereka. Awalnya bersikap netral tapi kemudian hal ini hanya sebagai alat untuk tawar menawar posisi yang akhirnya tidak dianggap.

Ketidakjelasan agenda dan platform partai ini juga mengakibatkan banyak kader mengambil inisiatif untuk menentukan pilihan mereka sendiri. Ketua DPD Partai Demokrat Papua Lukas Enembe, Wakil Ketua Majelis Pertimbangan Daerah PD Jabar Deddy Mizwar dan beberapa kader PD lain di daerah telah menyatakan sikap politik mereka.

Bukan tidak mungkin mereka akan meninggalkan partai ini di kemudian hari. Dispensasi khusus yang diberikan oleh ketum PD kepada kader untuk memilih sesuai keinginan mereka sebenarnya sudah terlambat. Kadernya terlebih dahulu menentukan sikap politik mereka.

Walaupun demikian, sikap ini menjadi yang paling mungkin diambil oleh PD untuk memperoleh kembali pengaruhnya dan mencegah kader-kader berpindah ke partai lain. DPP membiarkan mereka memilih capres-cawapres sesuai pilihan mereka.

Baca: Hasil Survei Alvara: Soliditas Pemilih Jokowi Ungguli Prabowo

Alvin Klarifikasi soal Ahok hingga Sandi

Sejumlah warga mendatangi kantor DPD Partai Gerindra Sulut di Jalan Santo Yoseph, Manado, Senin (10/9/2018).

Mereka bertanya, mendapat jawaban dan pada akhirnya menetapkan hati mendukung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Pria itu bertanya dengan gusar mengenai sejumlah kabar miring tentang Prabowo. Dari gayanya itu, nampak setengah hati mempercayai kabar itu.

Pengurus DPD Gerindra yang bersiaga di kantor itu menjawab pertanyaan dengan sopan, padat, singkat dan jelas, disertai sejumlah data. Salah satu yang ditanyai si pria adalah soal Basuki Tjahja Purnama atau Ahok.

Pengurus menjawab isu sensitif itu dengan membeber kisah Prabowo yang memaksa Ahok maju sebagai Gubernur Jakarta beberapa tahun lalu. Prabowo lantas mendanai Ahok maju. Sampai di sini keyakinan si pria 
mulai goyah.

Sampai akhirnya ia kemudian menetapkan hati memilih Prabowo dalam Pilpres 2019. Kisah ini diceritakan Wakil Sekretaris DPD partai Gerindra Sulut, Alvin Ruata kepada tribunmanado.co.id, di kantor DPD Gerindra Sulut, Senin kemarin. 

Kala itu Alvin sedang bersiap menjamu para anggota mahasiswa pencinta alam dengan kasus mirip pria tua tadi.

Beber Alvin, kantor DPD Gerindra Sulut saban hari didatangi warga yang memberi dukungan pada Prabowo.
Di antaranya turut mereka yang sempat patah hati dengan Prabowo.

"Yang datang dari ormas, purnawirawan, relawan, mahasiswa, mapala, kaum milenial hingga emak emak, pokoknya semua golongan," kata dia.

Terhadap yang patah hati, ia coba meluruskan opini yang cenderung menyebar. Kadang ia berbagi cerita yang tergolong untold story.

"Sandiaga dulunya suka menjelekkan Prabowo, kami saja sempat dongkol, tapi ia dirangkul Prabowo. Itu karena Pak Prabowo sangat menghargai kemampuan seseorang, tak peduli ia pernah dilecehkan, itu bukti sikap keneragawannya, " kata dia.

Ungkap dia, penjelasan itu mengembalikan militansi kader yang sempat pudar.

"Mereka jadi tahu tentang pak Prabowo dan menyebarkan hal positif tentangnya, " kata dia.

Bebernya lagi, beberapa orang sempat bersikap malu malu memberi dukungan. Hal itu membuat pengurus harus menggali motif mereka.

"Kebanyakan mahasiswa, mereka seperti malu malu mau mendukung, " kata dia.

Alvin membeber, umumnya yang datang punya militansi kuat pada Prabowo. 
Mereka mengaku siap mati demi Prabowo.

"Ada yang katakan kagum dengan ketegasan Prabowo, pada prestasi Prabowo dan lainnya, " kata dia.

Alvin menyatakan, kebanyakan relawan yang mendaftarkan diri di kantor tersebut mengatasnamakan organisasi tertentu. Jumlah mereka sudah puluhan.

"Ada yang kagum pada Prabowo, pada pak Sandi dan latar belakang macam - macam, mereka semua kami data dulu, " kata dia. 

Sebut Alvin, pihaknya menanti arahan dari pusat untuk acara deklarasi bersama. Para relawan dipersilahkan beraksi namun tetap melakukan koordinasi.

Baca: Hasil Survei Alvara, Elektabilitas Jokowi-Maruf 53,6 Persen, Prabowo-Sandiaga 35,2 Persen

Wakil Ketua DPC Partai Gerindra Manado, Rolando Lombok menyatakan, banyak relawan yang ingin segera mendeklarasikan diri.

"Jumlahnya sangat banyak, " kata dia.

Dikatakan Lombok, nantinya Gerindra akan memiliki tim kampanye serta relawan.

Baca: Hasil Survei LSI: Elektabilitas Jokowi-Maruf 52,2 Persen, Prabowo-Sandiaga 29,5 Persen

Bendahara DPD Gerindra Sulut Juddy Moniaga mengatakan, pihaknya menanti arahan pusat dalam pembentukan tim kampanye. "Kita tunggu dari pusat, " kata dia.

Buff seorang relawan Prabowo kepada Tribun Manado mengakui ia sempat kecewa pada Prabowo.

Namun pada akhirnya ia kembali pada keyakinannya yang lama.

"Indonesia butuh pemimpin seperti Prabowo, " kata dia. 

Sebagai relawan, ia selalu coba meluruskan opini tentang Prabowo di Sulut. Ia aktif di medsos. "Saya selalu coba menjelaskan fakta yang sesungguhnya terjadi, " kata dia. (Tribun/ryo/fin/art/dik/kompasTV/crz/dma/dik)

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Aldi_Ponge
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help