Menghindari Emiten Pengutang Dollar AS

Nilai tukar rupiah masih bergerak dalam tren melemah, diikuti oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang juga turun.

Menghindari Emiten Pengutang Dollar AS
TRIBUNNEWS
Petugas menunjukkan dollar AS di gerai money changer di Jakarta Pusat, 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Nilai tukar rupiah masih bergerak dalam tren melemah, diikuti oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang juga turun. Hal ini mengancam kinerja reksadana saham tahun ini.

Lihat saja, sepanjang tahun ini, kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) di pasar spot sudah mengalami pelemahan sebesar 9,33% hingga Jumat (7/9) lalu. Di saat yang sama, IHSG pun mengalami koreksi sebesar 7,93% dari awal tahun.

Alhasil, kinerja reksadana saham masih sulit bangkit dari tren penurunan yang berlangsung sepanjang tahun ini. Asal tahu saja, hingga akhir Agustus, rata-rata kinerja reksadana saham, sebagaimana terlihat dari pergerakan Infovesta Equity Fund Index, merosot 5,22% sejak awal tahun.

Mengatasi kondisi ini, Direktur Utama Mandiri Manajemen Investasi Alvin Pattisahusiwa mengungkapkan, pihaknya memilih melakukan penyesuaian secara taktikal berdasarkan situasi yang ada di pasar dalam mengelola reksadana sahamnya.

Kini, Mandiri Manajemen memilih berinvestasi di saham emiten yang berorientasi ekspor, memiliki net gearing ratio rendah dan tidak memiliki utang dalam denominasi dollar AS.

"Kami berasumsi depresiasi nilai tukar rupiah masih bisa terjadi juga mengantisipasi naiknya suku bunga acuan BI," ungkap dia.

Senada, Direktur Bahana TCW Investment Management Soni Wibowo mengatakan, Bahana TCS sudah mengurangi penempatan dana di saham yang memiliki utang dollar AS berskala jumbo dari aset dasar portofolio reksadana saham yang dikelola.

Pihaknya kini lebih mengandalkan saham dari emiten yang memiliki efek netral terhadap sentimen rupiah, namun punya potensi pertumbuhan kinerja yang tinggi.

Di luar itu, pada dasarnya Bahana tidak mengubah pembobotan aset dasar dalam portofolio reksadana saham secara ekstrem.

"Kami tetap melakukan pembobotan normal sekitar 90%-95% pada saham, sedangkan sisanya dalam bentuk kas," imbuh Soni.
Sementara itu, Managing Director, Head Sales & Marketing Henan Putihrai Asset Management Markam Halim berujar, pihaknya sangat menekankan pemilihan aset dasar portofolio reksadana saham berdasarkan pertimbangan jangka panjang dan tidak mudah digoyahkan oleh sentimen sesaat.

Halaman
1234
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help