Ini Tanggapan Antropolog Unsrat Terhadap Tradisi Pengucapan Syukur

Secara historis kultural pengucapan syukur adalah tradisi yang dilakukan masyarakat dalam aktivitas pertanian ketika mereka selesai panen

Ini Tanggapan Antropolog Unsrat Terhadap Tradisi Pengucapan Syukur
istimewa
Dr. Henny Pratiknyo 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Secara historis kultural pengucapan syukur adalah tradisi yang dilakukan masyarakat dalam aktivitas pertanian ketika mereka selesai panen.

Antropolog Unsrat Dr Henny Pratiknyo mengatakan, dalam perkembangan selanjutnya pengucapan syukur di-take over oleh pemerintàh kabupaten kota bekerja Sama dengan gereja-gereja menjadi agenda tahunan. Mulai ada adopsi seperti thanksgiving.

Adapun nilai syukur di-take over oleh gereja-gereja dalam hal ini lebih cenderung gereja-gereja Protestan, sedangkan masyarakat pada umumnya, memaknai pengucapan syukur sebagai satu kesempatan untuk memasak ragam masakan istimewa, dengan berbagai lauk pauk dan kue khas pengucapan.

Baca: Lalu Lintas saat Pengucapan Syukur di Manado Padat, Warga Sebut Lebih Meriah Dibanding Tahun Lalu

Antara lain Tinoransak, Pangi, Nasi Jaha, Dodol dan lain-lain untuk disuguhkan kepada tamu atau saudara yang datang.

Adapun prinsip persaudaraan dan kebersamaan menjadi nilai positif dalam pengucapan. Dari aspek ekonomi terjadi perputaran uang yang tidak sedikit.

Apabila satu keluarga mengeluarkan uang 500 ribu untuk biaya pengucapan dapat dibayangkan jumlah perputaran uang.

Secara budaya orang Manado adalah tipikal orang yang suka menjamu tamu. Dalam konteks pengucapan syukur menjadi kesempatan untuk mengaktualisasi diri dan keluarga dengan berbagai makanan yang istimewa dan kelihatan setengah dipaksakan. Dalam konteks ini terlihat adanya pemborosan.

Penulis: David_Manewus
Editor: David_Kusuma
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved