Tangkal Rabies dengan Pendekatan One Health di Minahasa

Baru saja kasus gigitan anjing kepada Prince Tahibe (7), warga Desa Pineleng I, Jaga IV terjadi.

Tangkal Rabies dengan Pendekatan One Health di Minahasa
TRIBUN MANADO/FINNEKE WOLAJAN
Prince Tahibe (7), korban gigitan anjing yang ditangani Tim One Health Minahasa, Sulawesi Utara. 

National Technical Advisor FAO ECTAD Indonesia, Dokter Hewan Ahmad Gozali mengatakan rabies pada anjing sangat mudah dikenali. Masyarakat harus mewaspadai jika peliharaannya berubah perilaku tiba-tiba. Yang sebelumnya galak, tiba-tiba tak galak. Atau anjing yang biasanya aktiv, tiba-tiba jadi pendiam.

Masyarakat harus makin curiga perubahan perilaku tersebut bersamaan dengan gigitan. Jika sudah demikian, masyarakat harus segera mengambil tindakan dengan suntik vaksin anti rabies pada korban yang kena gigitan.

Masyarakat yang memelihara anjing harus memvaksin anjing dua kali setahun. Ini agar virus rabies tak bersarang di tubuh anjing tersebut. Jika anjing berumur di bawah tiga bulan, anjing itu harus kembali divaksin tiga bulan berikutnya.

Virus rabies tak tampak oleh mata, beda dengan hama lainnya. Artinya virus ini bisa berada di mana saja. Tanpa disadari sudah ada bibit rabies pada anjing. Sehingga cara paling aman adalah memvaksin anjing peliharaan. Selain vaksin, cara lain tetap menjaga anjing sehat adalah jangan biarkan anjing berkeliaran. Anjing yang bergaul dengan anjing lain yang tak jelas latar belakangnya berpotensi virus rabies bersirkulasi.

Gigitan yang dekat dengan otak dan dalam jumlah yang banyak makin mempercepat virus masuk ke otak. Jika telah sampai di otak, Gozali memastikan warga tersebut 100 persen meninggal. “Misalnya gigit di mulut, itu dekat dengan otak. Gigitan di kaki tentu akan lebih lama. Selama vase perjalanan virus rabies ke otak, lalu divaksinasi, warga tersebut bisa sembuh,” jelas Gozali.

Sulawesi Utara Daerah Endemik Rabies di Indonesia

Sulawesi Utara termasuk daerah endemik rabies di Indonesia. Data di Dinas Pertanian dan Peternakan dan Dinas Kesehatan Sulawesi Utara (lihat info grafis di bawah) menunjukkan setiap tahunnya ada ribuan gigitan anjing dan ribuan vaksin yang telah digelontorkan.

Dalam kurun waktu tahun 2010 hingga Maret 2018 total ada 28.787 kasus gigitan anjing, 12.997 gigitan yang mendapat vaksin anti rabies, belum dengan tahun 2018 dan 199 kasus lyssa atau kematian pada manusia karena rabies. Daerah dengan kasus tertinggi adalah Minahasa menyusul Minahasa Selatan, Minahasa Utara, Minahasa Tenggara, Manado, Bitung, Tomohon.

Meski daerah endemik, penanggulangan rabies di Sulawesi Utara belum diperkuat dengan peraturan daerah sehingga membuat penanganannya tak maksimal. Tak ada payung hukum yang mengikat, yang bisa memberi sanski bagi pelanggar peraturan daerah. Provinsi saja baru punya peraturan gubernur. Sementara dari 15 kabupaten dan kota, baru tiga daerah yang memiliki perda penanggulangan rabies, yakni Tomohon, Minahasa Tenggara dan Kepulauan Sitaro.

Pemerintah provinsi butuh komitmen pemerintah daerah serta masyarakat untuk memberantas rabies ini. Tahun ini pemerintah provinsi hanya punya 75 ribu vaksin untuk anjing. Sementara populasi anjing di Sulut hingga tahun 2017 mencapai 332.023, naik drastis dari tahun 2016 yang hanya 210.459 ekor. Vaksin yang tersedia tak mampu menjangkau jumlah anjing di tiap daerah (lihat info grafis di bawah).

Halaman
1234
Penulis: Finneke_Wolajan
Editor: Alexander Pattyranie
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved