Tangkal Rabies dengan Pendekatan One Health di Minahasa

Baru saja kasus gigitan anjing kepada Prince Tahibe (7), warga Desa Pineleng I, Jaga IV terjadi.

Tangkal Rabies dengan Pendekatan One Health di Minahasa
TRIBUN MANADO/FINNEKE WOLAJAN
Prince Tahibe (7), korban gigitan anjing yang ditangani Tim One Health Minahasa, Sulawesi Utara. 

Minahasa menjadi daerah percontohan program penanggulangan zoonosis dengan pendekatan One Health. Program ini kerja sama Food and Agriculture Organization ECTAD dan Kementerian Pertanian RI, Direktorat Kesehatan Hewan, serta Pemerintah Kabupaten Minahasa dalam hal ini Dinas Pertanian dan Dinas Kesehatan.

Penanggulangan rabies dengan pendekatan One Health ini memang masih sebatas mengobati. Langkah pencegahan rabies dengan cara vaksin belum mampu terlaksana. Sebab jumlah vaksin dan populasi hewan pembawa rabies seperti anjing sangat tak sebanding. Tahun 2017 populasi anjing di Minahasa mencapai 79.620 ekor. Jumlah vaksin bantuan APBN 17.985, sementara APBD 2018 Minahasa hanya mampu menambah 2.200 vaksin.

Meski begitu, kata Kumaunang, paling tidak dengan One Health pemerintah bisa menangani kasus lebih cepat. Dengan target tak ada kasus lyssa dan angka rabies pada anjing bisa menurun. Ia mengakui memang sulit menangani rabies pada anjing. Selain jumlah populasi dan vaksin pada anjing sangat tak sebanding, gigitan memang menjadi alat komunikasi anjing.

FAO ECTAD dan Kementerian RI memulai konsep One Health ini dengan membangun sumber daya manusia petugas di Minahasa. Petugas One Health yang berjumlah 60 personel ini mendapat berbagai tahapan pelatihan. Tahap awal mengawinkan emosional petugas lapangan, tahap selanjutnya melakukan simulasi penanganan kasus. “Satu hari setelah pelatihan, tak sehari pun mereka berhenti berkoordinasi,” ujar National Technical Advisor FAO ECTAD Indonesia, Dokter Hewan Ahmad Gozali.

Kebutuhan One Health ini untuk menanggulangi zoonosis di Minahasa yang berkonsentasi pada rabies. Program ini menargetkan kasus pada manusia nol. Sebab penanganan yang tepat akan menyelamatkan nyawa manusia. Informasi yang benar dari kesehatan masyarakat dan kesehatan hewan akan memperkecil kasus rabies.

Minahasa sendiri adalah daerah yang unik, sehingga FAO ECTAD dan Kementerian Pertanian RI memilih daerah ini sebaga daerah percontohan pendekatan One Health. Direktur Kesehatan Hewan, Kementerian Peternakan RI, Fadjar Sumping Tjatur Rasa mengatakan keunikan ini ada pada kebiasaan masyarakat Minahasa mengonsumsi daging anjing serta hewan tak lazim lainnya. Masyarakat juga gemar memelihara anjing yang membuat populasi anjing di Minahasa tertinggi di Sulawesi Utara. Kondisi ini membuat Minahasa berisiko tinggi penyebaran zoonosis, demikian Fadjar.

Program One Health ini bukan melarang perdagangan anjing untuk konsumsi di Minahasa. Namun bagaimana mengedukasi masyarakat untuk menangani hewan dengan benar. Memberi peringatan pada masyarakat untuk menangani hewan dengan hati-hati. “Jangan hewan sakit dikonsumsi. Masyarakat harus tahu menangani hewan dengan benar, ada biosecuritynya,” ucapnya.

Dunia saat ini sedang mengupayakan bagaimana kesehatan hewan, kesehatan masyarakat dan kesehatan lingkungan terbalut secara sistematis dengan pendekatan One Health. Ini untuk menanggulangi isu zoonosis atau penyebaran penyakit dari hewan ke manusia, begitu pun sebaliknya. Selain Minahasa, FAO ECTAD dan Kementerian Pertanian RI juga membuat pilot project program One Health di sejumlah daerah di Indonesia.

“Program ini akan menyebar di daerah lain juga secara nasional. Kunci sukses program One Health ini ada di daerah. Pusat hanya membuat standar dan kriteria. Unsur pemerintah dan masyarakat masing-masing punya peranan besar. Target kami menuju Indonesia bebas rabies tahun 2020,” jelas Fadjar.

Waspada Anjing Berubah Perilaku Tiba-tiba

Halaman
1234
Penulis: Finneke_Wolajan
Editor: Alexander Pattyranie
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help