Properti Hadapi Risiko Kurs: Akhirnya TLKM Rilis MTN Rp 1,5 Triliun

Demi menggenjot pendanaan, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) akhirnya merilis medium term notes (MTN) senilai Rp 1,5 triliun.

Properti Hadapi Risiko Kurs: Akhirnya TLKM Rilis MTN Rp 1,5 Triliun
kompas.com
Kalau inflasi 8 persen, maka dalam 5 tahun mendatang nilai propertinya akan menjadi sekitar Rp 660 juta. Penghitungan adalah inflasi 8 % x 3 x 5 x Rp 300 juta. Artinya, nilai tabungan Anda bukann berkurang, tetapi malah terus bertambah," ujar Marcell. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Demi menggenjot pendanaan, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) akhirnya merilis medium term notes (MTN) senilai Rp 1,5 triliun. Perusahaan halo-halo ini memilih menerbitkan MTN dalam dua skema.

Berdasarkan catatan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), skema pertama yang dipilih TLKM adalah MTN kovensional senilai Rp 758 miliar. Skema kedua adalah MTN Syariah Ijarah sebesar Rp 742 miliar.

MTN konvensional yang bertajuk MTN I Telkom Tahun 2018 ini memiliki tiga seri. Seri A memberikan tingkat suku bunga tetap 7,25% dengan jatuh tempo pada Desember 2019. Nilai untuk seri ini sebesar Rp 262 miliar.

Seri B bakal memiliki nominal Rp 200 miliar dengan tawaran bunga 8%. Seri yang satu ini bakal jatuh tempo September 2020. Terakhir, Seri C memberikan tingkat bunga 8,35% dengan jumlah pokok Rp 296 miliar.

MTN Syariah Ijarah Telkom Tahun 2018 juga bakal dilepas dalam tiga seri. Pertama, Seri A menawarkan cicilan imbalan ijarah sebesar Rp 19,14 miliar. Sisa imbalan ijarah ini Rp 264 miliar. Seri ini akan jatuh tempo pada 14 September 2019.

Kedua, Seri B yang jatuh tempo September 2020. Nilai sisa imbalan ijarah sebesar Rp 296 miliar. TLKM bakal menawarkan cicilan imbalan ijarah sebesar Rp 23,68 miliar untuk seri ini

Ketiga, MTN Seri C dengan sisa imbalan ijarah sebesar Rp 182 miliar, menawarkan cicilan imbalan ijarah sebesar Rp 15,19 miliar. Seri ini jatuh tempo September 2021.

Sebelumnya, manajemen TLKM sempat menyebut, dana yang didapat dari penerbitan MTN akan digunakan untuk reprofiling utang. Sebab, komposisi pinjaman perbankan perusahaan pelat merah ini cukup besar.

Properti Hadapi Risiko Kurs

Prospek industri properti tampaknya masih suram. Pelemahan nilai tukar rupiah bahkan berpotensi membuat kinerja keuangan emiten properti ambruk.

Halaman
123
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help