Dalam Persidangan Pemecah Ombak, Asep Sebut Pemkab Minut 3 Kali Minta Rekomendasi pada BMKG

JPU Bobby Ruswin menghadirkan empat saksi dalam lanjutan sidang kasus korupsi pemecah ombak Desa Likupang Timur, di PN Manado.

Dalam Persidangan Pemecah Ombak, Asep Sebut Pemkab Minut 3 Kali Minta Rekomendasi pada BMKG
ISTIMEWA
Persidangan kasus korupsi pemecah ombak di Pengadilan Negeri Manado, Sulawesi Utara. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Jaksa penuntut umum (JPU) Bobby Ruswin menghadirkan empat saksi dalam lanjutan sidang kasus korupsi pemecah ombak Desa Likupang Timur Kabupaten Minahasa Utara (Minut), di Pengadilan Negeri (PN) Manado, Sulawesi Utara, Selasa (04/09/2018).

Keempat saksi tersebut yakni Forman Dandel, Petrus Makarau, Asep Hendrawan, dan Frans S Paat.

Mereka adalah pegawai BPBD Minut dan BMKG.

Menurut Asep Hendrawan, Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Klimatologi Kelas II Minut, pihaknya tak pernah mengeluarkan rekomendasi bahwa Likupang Rawan bencana.

"Memang ada permintaan dari Pemkab Minut untuk rekomendasi itu sebanyak tiga kali, tapi tidak kami keluarkan," kata dia.

Ia menambahkan alasannya karena memang di daerah tersebut tidak rawan bencana.

"Mana mungkin kami keluarkan kalau tidak ada bencana," tegasnya.

Kuasa hukum Junjungan Tambunan, Teguh, mengatakan bahwa harusnya masih ada orang lain yang lebih punya peran penting dalam kasus ini yang menjalani persidangan.

"Karena memang dari awalnya sudah tidak sesuai prosedur. Saya tak ingin katakan siapa, tapi ada orang yang lebih layak di persidangan ini selain klien saya," tegasnya.

Sidang tersebut berlangsung selama 2 jam dan dipimpin oleh ketua majelis hakim Vincentius Banar.

Halaman
12
Penulis: Nielton Durado
Editor: Alexander Pattyranie
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help