Prediksi Bursa Saham-Rupiah: Tergantung Data Dalam Negeri

Meski masih dibayangi pelemahan rupiah, namun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi berpeluang naik pada hari ini

Prediksi Bursa Saham-Rupiah: Tergantung Data Dalam Negeri
kontan
Pergerakan IHSG 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Meski masih dibayangi pelemahan rupiah, namun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi berpeluang naik pada hari ini (3/9). Jumat lalu, indeks tergelincir 0,01% ke level 6.018. Investor asing mencatatkan net sell Rp 434,74 miliar.

Analis Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan menyebut, pergerakan indeks akan dipengaruhi rilis data inflasi domestik bulan Agustus. Bank Indonesia (BI) memperkirakan terjadi deflasi di bulan tersebut.

Bila proyeksi BI tepat, berarti inflasi tahunan cenderung terjaga. "Artinya, hampir seluruh data makroekonomi relatif membaik, kecuali nilai tukar. Ini bisa memberi keyakinan bagi investor," papar Valdy, Jumat (31/8).

Terlebih, BI memastikan akan melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah. Meski cadangan devisa turun, namun masih setara 6,9 bulan kebutuhan impor, sehingga masih di atas minimal kecukupan cadangan devisa internasional, yakni tiga bulan.

Dari sisi teknikal, M. Nafan Aji, analis Binaartha Sekuritas menjelaskan, indikator MACD sudah membentuk pola golden cross di area positif. Sementara, stochastic dan RSI berada di area netral. Juga terlihat pola bullish pin bar, yang mengindikasikan adanya potensi pergerakan indeks menuju area resistance.

Prediksi Nafan, Senin (3/9), IHSG akan menguat dengan level resistance 6.070 dan level support 5.914.
Valdy juga memprediksi, indeks akan cenderung menguat namun terbatas. IHSG berpotensi bergerak menuju resistance 6.100.

rupiah
rupiah (AFP)

Proyeksi Rupiah
Kaki Rupiah Masih Goyah

Perang dagang masih rentan menjatuhkan rupiah. Namun, data domestik yang solid bisa membatasi pelemahan.
Analis Monex Investindo Futures Dini Nurhadi Yasyi mengatakan, perang dagang antara AS dan China kembali memanas. AS berniat memberlakukan tarif impor antara 10%-20% bagi produk China senilai US$ 200 miliar.

Investor pun mengamankan aset ke safe haven, seperti dollar AS. "Sebaliknya, aset negara berkembang, seperti rupiah akan dihindari," papar Dini, Jumat lalu.

Namun, Satria Sambijantoro, Chief Economist Bahana Sekuritas, menyebut, data inflasi Agustus yang diprediksi stabil, bisa meminimalisir tekanan terhadap rupiah. Jika inflasi masih rendah dan yield obligasi tinggi, situasi ini bisa kembali menarik masuk dana asing.

Halaman
1234
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved