Wajah IRT di Bolmut Disetrika Suami, Keluarga Pihak Istri Lapor Polisi

Kekerasan terhadap perempuan terjadi di Desa Benjeita, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Sulawesi Utara, Sabtu (01/09/2018) kemarin.

Wajah IRT di Bolmut Disetrika Suami, Keluarga Pihak Istri Lapor Polisi
istimewa

TRIBUNMANADO.CO.ID, BOROKO - Kekerasan terhadap perempuan terjadi di Desa Benjeita, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Sulawesi Utara, Sabtu (01/09/2018) kemarin.

Informasi yang dihimpun TribunManado.co.id, Minggu (02/09/2018) korban adalah ibu rumah tangga (IRT) Tanwin Hungopa (29) dan pelaku adalah suaminya sendiri, Hasrin Kapiso (34).

Yasrin Hongupa, kakak korban saat dihubungi menjelaskan kronologi kejadiannya.

aniaya
aniaya (istimewa)

"Kejadian Sabtu pagi kemarin, saat itu adik saya (korban) sedang menyetrika pakaian anak untuk pergi sekolah. Tapi saat sedang menyetrika pakaian, tiba-tiba setrika jatuh menimpa dinding kamar tidur yang terbuat dari triplek," ujarnya.

Yasrin menambahkan, sontak pelaku yang lagi berbaring terkejut dan menuduh korban menendang dinding kamar.

Baca: Kapolres Bolmong Pastikan Kasus KDRT ‘Setrika Menempel di Wajah’ Diproses Hukum

Dari situlah terjadi adu mulut dan cekcok dalam rumah tangga.

Akhirnya pelaku merampas setrika yang masih panas itu dan menempelkannya ke wajah korban, hingga wajah korban mengalami luka bakar.

Yasrin menyampaikan, masalah ini sudah dilaporkan langsung ke Polsek Bolangitang.

Baca: Pria Ini Tempelkan Setrika Panas di Wajah Istri, Gara-gara Setrika Jatuh

Korban juga sudah divisum dokter bersama pihak kepolisian.

"Kalau dari kami keluarga sangat keberatan dengan masalah kekerasan dalam rumah tangga. Selain sudah melakukan BAP di Polsek, keluarga sudah laporkan ke Komnas Perlindungan Perempuan," jelas Yasrin.

Informasi yang dihimpun, pelaku masih berada di tempat kejadian perkara dan masalah ini sedang diproses pihak kepolisian.

Undang-undang KDRT menyebutkan bahwa KDRT adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga (Pasal 1 ayat 1).

Delik ancaman sanksi kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga yakni penjara paling lama 5 (lima) tahun.

Kekerasan fisik yang mengakibatkan korban mendapat jatuh sakit atau luka berat penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun. (Tribunmanado.co.id/Maickel Karundeng)

Penulis: Maickel_Karundeng
Editor: Alexander Pattyranie
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved