Uskup Emeritus Suwatan Ingatkan Inti Perayaan Yubileum 150 Tahun Gereja Katolik di Keuskupan Manado

Ruang Mapalus Kantor Gubernur Sulawesi Utara penuh dengan umat Katolik Kevikepan Manado, Minggu (2/9/2018).

Uskup Emeritus Suwatan Ingatkan Inti Perayaan Yubileum 150 Tahun Gereja Katolik di Keuskupan Manado
Tribun manado / David Manewus
Misa penutupan perayaan Yubileum 150 tahun Gereja Katolik, Kembali, Tumbuh dan Berkembang di wilayah Keuskupan Manado tingkat Kevikepan Manado. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Ruang Mapalus Kantor Gubernur Sulawesi Utara penuh dengan umat Katolik Kevikepan Manado, Minggu (2/9/2018) .

Mereka merayakan misa penutupan perayaan Yubileum 150 tahun Gereja Katolik, Kembali, Tumbuh dan Berkembang di wilayah Keuskupan Manado tingkat Kevikepan Manado.

Uskup Emeritus Yosef Suwatan MSC dalam renungan kembali mengingatkan umat soal inti perayaan. Sudah 150 tahun berlalu ketika Daniel Mandagi, seorang tentara KNIL berhasil mengundang Pastor Jan Van De Vries untuk membabtis anaknya.

Undangan itu kemudian yang melapangkan jalan perkembangan terus-menerus Gereja Katolik di wilayah ini setelah ratusan tahun hilang jejak karena tindakan VOC.

Dan catatan sejarah itu didapatkan Uskup Suwatan secara sederhana. Itu dimulai dengan keinginan Pastor Paroki Langowan 25 tahun lalu Pastor Fred Tawalujan (Alm) untuk merayakan 125 tahun Paroki Langowan.

Fakta terbuka, ternyata pembabtisan awal di Langowan itu tercatat dalam Buku Pembabtisan. Secara kebetulan Pastor J Waget menjadi Pastor Paroki Sonder tanggal 19 Maret 1993 mendapat dari Guru Jemaat Tincep, Jopi Kojo, suatu dokumen berharga, yaitu tulisan tangan dari Daniel Mandagi, yang bercerita tentang kedatangan Pastor Yohanes De Vries SJ tahun 1868 dan tentang perkembangan umat Katolik di Stasi Langowan sampai tahun 1924 (dokumen itu diserahkan 29 Maret 1993)

Memperkuat kata Uskup Suwatan, Uskup Rolly mengatakan cerita Uskup Suwatan menjawab penyebab adanya perayaan ini. Setelah peristiwa itu kata Uskup Rolly, perkembangan terjadi terus-menerus.

"Ini dimulai dari gerakan satu dua orang," kata Uskup Rolly.

"Dengan inspirasi bacaan Hari Kitab Suci Nasional kita mau melakukan gerakan apa. Kita membuat budaya gerakan bagi yang miskin dan tersingkirkan," ujarnya.

Daniel Mandagi dan Van De Vries telah membangun persekutuan. Uskup mengingatkan, bahwa yang bisa menjadi najis ialah apa yang keluar bukan apa yang masuk.

Umat diminta untuk memiliki daya batin yang keluar untuk memperkuat persekutuan. Roh Tuhan akan mengerakkan selamanya seperti Ia mengerakkan Daniel Mandagi dan Pastor Van De Vries. (dma)

Penulis: David_Manewus
Editor: David_Kusuma
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help