Emiten CPO Bangun Pabrik Biodiesel

Rencana pemerintah mewajibkan penggunaan solar bercampur minyak kelapa sawit 20% atau B20 benar-benar membawa optimisme

Emiten CPO Bangun Pabrik Biodiesel
AFP
Sawit 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Rencana pemerintah mewajibkan penggunaan solar bercampur minyak kelapa sawit 20% atau B20 benar-benar membawa optimisme bagi para emiten kelapa sawit. Emiten sawit yakin kebijakan yang akan berlaku mulai 1 September 2018 ini mampu mengatasi masalah oversupply dan koreksi harga.

PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) menyebut akan lebih baik lagi bila pemerintah menaikkan penggunaan campuran biodiesel hingga 30%. "Oversupply di pasar akan berkurang dan dengan sendirinya akan menaikkan harga crude palm oil (CPO) di pasar," kata Presiden Direktur SGRO Marc Louette dalam jumpa pers, Selasa (28/8).

Tak hanya bagi SGRO saja, PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) juga mengapresiasi kebijakan B20 ini.Deputy Presiden Director TBLA Sudarmo Tasmin mengungkapkan, kebijakan B20 datang di saat yang tepat. Menurut dia, panen sawit biasanya terjadi di paruh kedua. Karena permintaan akan sawit tahun ini meningkat, pasokan saat panen tidak akan berlebih.

Tingkatkan produksi

Adanya kebijakan B20 yang sudah di depan mata membuat para emiten kelapa sawit bergegas menyambut dengan peningkatan produksi. TBLA misalnya, akan mengembangkan produksi di Palembang dan Surabaya dengan menambah mesin biodiesel.

Saat ini TBLA hanya memiliki satu pabrik yang memiliki mesin biodiesel, yakni pabrik Lampung. Sudarmo mengatakan, saat ini utilisasi pabrik tersebut masih 40%. Dengan adanya kebijakan B20, TBLA berniat meningkatkan utilisasi pabrik ini.

Sampai saat ini, kontribusi biodiesel bagi pendapatan TBLA baru sebesar 9%. Sudarmo berharap akhir tahun ini kontribusinya bisa mencapai dua digit dan mendekati 20% tahun depan.

Pun demikian dengan AALI. Anak usaha Astra Internasional ini berusaha menambah kapasitas dengan membangun pabrik di wilayah Kalimantan Selatan.

Saat ini, pabrik tersebut sudah mulai dibangun. Perseroan ini menargetkan pabrik tersebut sudah selesai di Desember. "Pabrik ini memiliki kapasitas 45 ton per jam" kata Santosa, Presiden Direktur AALI.

Dengan adanya tambahan pabrik ini, maka total kapasitas produksi AALI akan menjadi 1.555 ton per jam. Sebelumnya, kapasitas produksi AALI sebesar 1.510 ton per jam. Untuk pembangunan pabrik ini AALI menganggarkan investasi sebesar Rp 200 miliar hingga Rp 250 miliar.

Halaman
1234
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help