Home »

Opini

Tajuk Tamu: Pahlawan Kecil dari Perbatasan

Tangan dan kakinya tampak menopang badanya bergerak ke atas tiang yang berdiameter kecil.

Tajuk Tamu: Pahlawan Kecil dari Perbatasan
Facebook
Sebuah rekaman video yang viral di media sosial memperlihatkan kejadian yang menarik saat pelaksaan upacara, Jumat (17/8/2018) 

Malah anak itu mempercepat gerakan tangan dan kakinya. 

Akhirnya tibalah anak itu di puncak. Penonton bergemuruh, berdecak kagum sembari memberi aplaus.

Di tengah riuh peserta upacara, sejurus kemudian, ia berhasil menggapai tali dengan tangannya.

Takut jangan saya terlepas, ia menggigit ujung tali sambil turun. Dengan lincah, ia berhasil tiba di tanah.

Kembali bocah itu mendapat sambutan meriah. Sambil menuju ke barisan, tayang video berakhir.

Entah apa jadinya upacara itu, jika ujung tali yang berada di puncak tiang bendera tidak bisa digapai.

Memberhentikan upacara, bukan sesuatu yang biasa.

Mau tidak mau, mesti ada yang bersedia untuk menjadi solusi. Dan anak itulah yang menjadi jalan keluar di tengah buntunya upacara bendera.

Entah anak itu sadar atau tidak, dia telah menunjukkan arti sebuah pengorbanan.

Mempertaruhkan nyawanya demi kelangsungan upacara bendera. Sedikit saja terjadi kesalahan, nyawanya bisa melayang.

Jika tiang tidak kokoh, pasti akan roboh. Tapi alam semesta berpihak pada perjuangannya. Tuhan memberi kesempatan kepadanya untuk membuat bangga banyak orang di persada Nusantara. 

Apalagi peristiwa itu terjadi di saat Indonesia tengah diuji oleh pikiran, sikap dan tingkah laku yang cenderung menghina bahkan menyerang simbol-simbol negara. Termasuk gerakan yang meragukan kekuatan dan kelebihan ke-bhineke tunggal ika-an Indonesia. Juga di saat makin merosotnya semangat nasionalisme pada sebagian orang. Makin memudarnya jiwa patriotisme dan menurunnya loyalitas dan dedikasi warga kepada kepemimpinan nasional.

Mungkin pada saat Presiden Joko Widodo dalam pidatonya menyinggung soal pentingnya persatuan sesama anak bangsa yang berbeda-beda suku, agama dan ras, pada waktu yang sama anak di daerah perbatasan sedang berjuang memanjat tiang untuk meraih ujung tali. Ternyata di ujung timur Indonesia, berbatasan dengan Timor Leste, bocah ingusan telah mengirim pesan kepada kita semua lewat aksi heroiknya. Bahwa, benih-benih kecintaan terhadap Ibu Pertiwi, tetap ada, tersemai dan terus berkecambah di benak anak-anak bangsa.

Saya termasuk orang yang percaya bahwa, rasa cinta tanah air akan tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat yang merasa aman, adil dan sejahtera. Jiwa patriotisme hanya akan berkobar-kobar apabila telah melalui pendidikan dan internalisasi nilai. Juga sikap bela negara dan kebanggaan nasional hanya akan muncul apabila masyarakatnya optimis dan menaruh harapan dan kepercayaan terhadap kepemimpinan nasional.

Kejadian ini membuat saya berselancar untuk sedikit menelusuri daerah tempat kejadian. Motaain berada di Kabupaten Belu, NTT. Daerah ini berbatasan langsung dengan Timor Leste. Di daerah yang memiliki rumah adat yang disebut matabesi ini, dulu dikenal sebagai sebagai salah satu daerah yang minim sumber daya alamnya. Infrastruktur jalan, jembatan dan bangunan terbilang jelek. Apalagi jika dibandingkan dengan daerah di negeri tetangga. Bahkan kantor Imigrasi dan bea cukai di Pos Lintas Batas Antar negara (PLBN), kondisinya memprihatinkan, mirip kedai kopi. Jalannya berkerikil dan berdebu. 

Itu dulu. Sejak kepemimpinan Jokowi, pos perbatasan ini berubah total. Gedungnya mega, pelayanannya prima. Di sekitarnya 600 unit rumah dibangun untuk warga perbatasan. Plus anggaran Pembangunan Infrastruktur Pemukiman ini sebesar Rp. 900 M. Kini jalan Atambua-Motaain telah diaspal dan diperlebar.

Jokowi berhasil menjadikan daerah perbatasan sebagai etalase NKRI yang patut dibanggakan. Dia tidak hanya memperintah dari Jakarta. Tapi ia turun langsung ke masyarakat termasuk di Belu, NTT. Bahkan saat berkunjung ke daerah ini, Jokowi langsung berkunjung ke rumah penduduk. Tak hanya bercakap-cakap dan berfoto, Jokowi menggunakan toilet rumah penduduk. Alhasil, beberapa waktu kemudian toilet di rumah itu diganti sesuai standar kesehatan.

Tak hanya sekali Jokowi bertandang ke NTT. Di awal 2018, bahkan mungunjungi pulau terluar paling selatan Indonesia yakni Pulau Rote. Selain menghadiri kegiatan Rakor Bara JP, Jokowi memanfaatkan untuk bertemu masyarakat. Tak lupa ia melakukan ritual, mencuci muka dengan air laut. Jokowi tercatat dalam sejarah sebagai presiden pertama yang menginjakan kakinya di pulau tersebut. Dan menjadi presiden pertama yang telah berkunjung ke Sabang dan Merauke, serta Miangas dan Rote.

Tak heran jika warga termasuk yang berada di perbatasan makin menaruh harapan dan optimis kepada Jokowi. Bahwa Indonesia bukan hanya di Indonesia Barat, tapi juga di timur. Bukan hanya di kota tapi di desa, di pulau-pulau terpencil. 

Entah ada hubungan atau tidak. Antara kunjungan dan pembangunan Jokowi di daerah perbatasan, dan anak SMP yang memanjat tiang bendera. Tidak penting. Yang pasti daerah perbatasan Motaain telah merasakan sentuhan Jokowi dan sang anak telah mempertontonkan sikap optimis terhadap ke-Indonesia-an. Telah menjadikannya pahlawan kecil dari perbatasan. 

Salam memBARA
Lexi Mantiri, Relawan Bara JP Sulut

Tags
upacara
Editor: Rine Araro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help