Suasana Haru di Ibadah Pemakaman Korban Kaki Dian, Oma Sofianti Sempat Pingsan Dua Kali

Jenazah Sofianti yang ditemukan di Kaki Dian Minut pada 17 Juli 2018 lalu, akhirnya bisa dibawa keluarganya ke Rumah Duka, Rabu (15/8/2018)

Suasana Haru di Ibadah Pemakaman Korban Kaki Dian, Oma Sofianti Sempat Pingsan Dua Kali
TRIBUNMANADO/ALPEN MARTINUS
Suasana rumah duka, kediaman Sofianti Andirael (15) Kelurahan Kawangkoan, Kecamatan Kalawat, Kabupaten Minahasa Utara (Minut), terasa, Rabu (15/8/2018). 

TRIBUNMANADO.CO.ID, AIRMADIDI - Suasana haru di rumah duka kediaman Sofianti Andirael (15) Kelurahan Kawangkoan, Kecamatan Kalawat Kabupaten Minahasa Utara (Minut), sangat terasa Rabu (15/8) pagi.

Jenazah Sofianti yang ditemukan di Kaki Dian Minut pada 17 Juli 2018 lalu, akhirnya bisa dibawa keluarganya ke Rumah Duka, Rabu kemarin.

Awen Andirael (61), kakek Sofianti tak terkecuali. Matanya tampak berkaca-kaca. Dia duduk di kursi yang diletakkan di jalan yang ditutup sementara. Tampak dia mengobrol dengan teman seumurnya.

Awen mengaku sangat kehilangan. "Saya sangat kehilangan. Dia itu cucu saya," ujar Awen.

Banyak kesan Sofianti baginya. "Dia itu anak yang rajin. Selalu mendengar apa yang kami sampaikan. Dia mendengarkan apa kata orangtuanya maupun saya," ujar Awen.

Awen mengatakan, Sofianti sejak kecil tinggal bersamanya di kebun.

Sofianti membantu Awen menanam ubi, singkong, rica, dan tanaman lain.

"Dia membantu saya mengisi jagung ke dalam tanah. Begitu juga saat panen dia selalu membantu. Dia tinggal di kebun saat masih bayi, masih dalam bue-bue (ayunan). Dia sudah tinggal dengan saya di kebun. Nanti berusia 13 tahun, saat duduk di bangku SMP barulah dia tinggal bersama ibunya. Itupun supaya dekat dengan sekolahnya," ujar Awen.

Awen pun mengatakan menyerahkan kasus ini kepada pihak kepolisian. "Saya menyerahkan kepada polisi. Biarkan mereka yang proses," ujar dia.

Meninggalnya Sofianti Andirael (15) yang jenazahnya ditemukan di seputaran Kaki Dian Minahasa Utara, menyisakan duka bagi rekan sekolahnya di SMP Negeri I Kalawat.
Beberapa di antaranya menangis saat di rumah duka. Mereka datang bersama para guru untuk melakukan ibadah penghiburan ke keluarga.

Halaman
123
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: David_Kusuma
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help