Kondisi Eksternal Goyahkan IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tak mampu bertahan di atas level 6.000. Kemarin (13/8), dalam sekejap, indeks anjlok

Kondisi Eksternal Goyahkan IHSG
kontan
Pergerakan IHSG 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tak mampu bertahan di atas level 6.000. Kemarin (13/8), dalam sekejap, indeks anjlok hingga 3,5% ke level 5.861,25.

Sentimen eksternal lagi-lagi menjadi biang keladinya. "Sentimen Turki dan The Fed," ujar Managing Director and Head of Equity Capital Market Samuel Internasional, Harry Su, Senin (13/8).

Namun, efek sentimen itu tak mengenai IHSG secara langsung. Kian memanasnya hubungan Amerika Serikat (AS) dan Turki menyebabkan mata uang lira tertekan. Sudah jatuh tertimpa tangga, defisit neraca transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) Turki mencapai lebih dari 5%.

Krisis yang terjadi di Turki turut menimbulkan riak di pasar mata uang emerging market, salah satunya rupiah. Kemarin, mata uang garuda menembus level Rp 14.600 per dollar Amerika Serikat (AS).
Itu bukan satu-satunya sentimen negatif. Pasar masih dihantui kenaikan lanjutan suku bunga acuan The Fed.

Dari dalam negeri, defisit neraca transaksi berjalan masih menjadi pertimbangan pelaku pasar. Analis Paramitra Alfa Sekuritas William Siregar bilang, kondisi Turki memang berbeda dengan kondisi Indonesia. Tapi, keduanya punya sedikit keterkaitan.

Misalnya level CAD Turki saat ini berada dalam kondisi krisis. Sedangkan, CAD Indonesia sekarang 2,7%, mendekati ambang batas aman 3%. "Memang jauh, kita masih di bawah 3%, tapi tak bisa dipungkiri itu jadi perhatian pelaku pasar," imbuh William.

Depresiasi kurs membuat dana asing, terutama di pasar obligasi, lari ke luar. Keluarnya dana asing itu juga memberikan tekanan terhadap IHSG. Kemarin, investor asing mencatat penjualan bersih alias net sell Rp 646,88 miliar.

Tak revisi target

Anjloknya IHSG bukan berarti merupakan sinyal buruk hingga akhir tahun ini. Analis kompak mempertahankan target IHSG.
Harry mempertahankan target IHSG di level 6.000 hingga akhir 2018. "Kuncinya, kondisi politik," ucap dia.

Jika kondisi politik tidak memanas, bisa memberikan sentimen positif. "Mungkin akan positif kalau incumbent menang karena pemerintah bisa ambil kebijakan, misalnya menaikkan harga BBM. Bensin kita impor, kalau dinaikkan, CAD bisa membaik," jelas Harry.

Halaman
1234
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help