Buya Syafii Maarif dan Sumanto Al Qurtuby: Stop Politisasi Agama!

Senada dengan Buya, Sumanto menganggap, praktik politisasi agama hanya merendahkan martabat agama bahkan menghina Tuhan.

Buya Syafii Maarif dan Sumanto Al Qurtuby: Stop Politisasi Agama!
Basuki
Buya dan Sumanto: Muslim harus cerdas, jangan mau dibodohi para tengkulak agama. 

“Bagi saya,” demikian Doktor Antropologi jebolan Boston University, Amerika Serikat ini berkeyakinan, “pemimpin politik-pemerintahan, tidak harus seorang Muslim. Juga tidak penting sama sekali apakah ia Islami atau tidak, bisa salat atau tidak, fasih membaca ayat-ayat Al-Quran atau tidak. Yang dibutuhkan seorang pemimpin politik-pemerintahan itu bukan idiologi dan agama tertentu tetapi kejujuran, kebersihan dan komitmen pada keadilan sosial.”

KELOMPOK WARAS JANGAN DIAM

Melihat masifnya pembodohan umat, kepada para dokter yang hadir, Buya menyeru agar kelompok waras tidak tinggal diam.

Kalau kelompok waras diam, akibatnya yang tidak waras akan memimpin.

Katanya, “Dokter-dokter harus speak up, harus turun ke lapangan. Jadilah dokter-dokter yang memikirkan rakyat. Teladani dokter-dokter pejuang, dokter-dokter hebat, seperti: Dokter Sutomo, Abu Hanifah, Tjipto Mangunkusomo, Wahidin Sudirohusodo dan sebagainya.”

Namun sayang, seperti disampaikan Sekjen NKRI Sehat Dr Maria Mubarika, kini virus radikalisme terlanjur mewabah, bahkan merambah di kalangan medis.

Seorang peserta menceritakan tentang adanya dokter yang menolak untuk mengobati pasien lantaran ia tidak seagama.

Sumanto Al Qurtuby: Yang dibutuhkan seorang pemimpin politik-pemerintahan itu bukan idiologi dan agama tertentu tetapi kejujuran, kebersihan dan komitmen pada keadilan sosial.
Sumanto Al Qurtuby: Yang dibutuhkan seorang pemimpin politik-pemerintahan itu bukan idiologi dan agama tertentu tetapi kejujuran, kebersihan dan komitmen pada keadilan sosial. (Basuki)

Menanggapi fenomena ini, Sumanto berkata, “Saya menduga, dokter-dokter jenis ini mungkin kurang tamasya. Karena itu, para dokter perlu meluaskan wawasannya. Para dokter jangan hanya membaca ilmu kedokteran. Baca sumber-sumber yang lebih komprehensif. Makanya, kalau belajar agama jangan dari tengkulak agama yang hanya bermodal sorban, cadar, dan jenggot. Sorban, cadar dan jenggot itu tidak menjamin Anda masuk sorga. Masak masuk sorga diukur dari panjang-pendeknya jenggot? Ini pembodohan umat yang keterlaluan!”

Sumanto mengingatakan, para dokter yang terlanjur mendukung khilafah dan menjadi cheerleaders Hizbut Tahrir (HT) perlu tahu.

HT didirikan oleh Taqiyuddin al-Nabhani.

Halaman
1234
Editor: Sigit Sugiharto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved