AS Tuntut Denda 350 Juta Dolar ke Indonesia

Kabar sejuk yang berasal dari angka pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,27% di kuartal II-2018 bak sirna seketika

AS Tuntut Denda 350 Juta Dolar ke Indonesia
kompas.com
Uang dollar AS 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Kabar sejuk yang berasal dari angka pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,27% di kuartal II-2018 bak sirna seketika tertiup kabar menyesakkan yang berembus dari Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Baru-baru ini, Amerika Serikat (AS) mengajukan permohonan ke WTO agar menjatuhkan denda tahunan senilai US$ 350 juta pada Indonesia.

AS menilai Indonesia telah mengabaikan putusan WTO tahun 2017. Waktu itu, WTO memenangkan gugatan AS dan Selandia Baru terhadap sejumlah restriksi impor daging dan hortikultura yang diterapkan oleh Indonesia.

Sampai kini, AS menuding Indonesia masih saja membatasi impor makanan, tanaman, dan produk hewan lain dari Amerika. Indonesia juga dituduh menerapkan pembatasan impor apel, anggur, kentang, bawang, buah kering, sapi dan daging sapi serta ayam dari Negeri Uwak Sam.

Denda senilai US$ 350 juta ini diajukan AS sebagai kompensasi dampak buruk akibat kebijakan restriksi yang diterapkan Indonesia.

Bahkan AS mengancam akan menuntut kenaikan nilai kompensasi karena ekonomi Indonesia dianggap terus tumbuh karena aturan pembatasan impor itu.

"Amerika Serikat akan memperbarui angka ini setiap tahun karena ekonomi Indonesia terus berkembang," tulis laporan yang diterbitkan oleh WTO, Senin (6/8) seperti dikutip dari laman www.theedgemarkets.com.

Selain AS, Selandia Baru juga memenangkan gugatan atas Indonesia di WTO. Negara ini mengklaim telah dirugikan sekitar NZ$ 1 miliar akibat pembatasan impor yang diterapkan Indonesia. Namun sejauh ini, Selandia Baru belum mengajukan permintaan sanksi serupa Amerika.

Guru Besar Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa menilai, tuntutan AS itu berpotensi diikuti negara lain yang merasa dirugikan oleh regulasi pembatasan impor Indonesia.

"Ini harus menjadi catatan penting bagi pemerintah kita, meskipun impor pangan dari AS dan Selandia Baru tidak terlalu besar," ujarnya kepada KONTAN, Senin (6/8).

Halaman
1234
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help