Pimpin Ibadah Syukur Pergantian Pendeta GMIM, Pendeta Arina: Jadilah Seperti Orang Samaria

Ketua badan pekerja majelis sinode (BPMS) GMIM Pdt Dr Hein Arina menegaskan bahwa GMIM adalah gereja oikumenis dan injili.

Pimpin Ibadah Syukur Pergantian Pendeta GMIM, Pendeta Arina: Jadilah Seperti Orang Samaria
TRIBUNMANADO/CHRISTIAN WAYONGKERE
Ketua badan pekerja majelis sinode (BPMS) GMIM, Pdt Hein Arina melakukan pelantikan dan serah terima pelayan dari Pdt Franky Kalalo kepada Pdt Fredy Balo 

Laporan Wartawan Tribun Manado, Christian Wayongkere

TRIBUNMANADO.CO.ID, BITUNG - Ketua badan pekerja majelis sinode (BPMS) GMIM Pdt Dr Hein Arina menegaskan bahwa GMIM adalah gereja oikumenis dan injili, jarang bahkan kadang ada gereja di dunia seperti ini GMIM.

Ada yang hanya satu yang ditekankan yaitu penginjilan tapi eksklusif tidak mau berhubungan dengan gereja lain.

"Inilah kekakhasan dan kekayaan GMIM pemberian Allah, bukan kehebatan kita," ucap Pdt Arina saat berkhotbah di ibadah syukur pelantikan dan serah terima pelayan, ketua Badan Pekerja Majelis Jemaat (BPMJ) GMIM Yobel Girian Weru Dua dan Ketua Badan Pekerja Majelis Wilayah Bitung III, Minggu kemarin.

Pelantikan dari serah terima dari Pdt Franky Paulus Kalalo MTh kepada Pdt Fredy Balo MTH, dihadiri ratusan jemaat dari GMIM Yobel dan jemaat GMIM Getsemando Ranowangko wilayah Tombatu Selatan tempat Pdt Balo mengabdi sebelum pindah.

Pdt Arina memberikan pemahaman dan pencerahan mengenai perpindahan pendeta GMIM harus dilakukan karena sistemnya periodik.

"Biar masih sayang kepada itu pendeta harus pindah. Jangan ada itu sikap pilih-pilih seperti pendeta bagus for torang yang bisau kase pa dorang," tambahnya.

Dijelaskannya penempatan pendeta GMIM melihat berbagai aspek, tapi juga perlu diperhatikan humanistik, sisi kemanusian atau keseimbangan. Jangan pendeta yang dari tempat terpencil dipindah lagi ke tempah yang lebih terpencil.

"Tangis Air mata tercurah itu pasti selalu ada saat serah terima pendeta karena mereka sayangi. Jangan menangis tapi yang perlu cinderamata," Candanya.

Dalam khotbahnya Pdt Arina berdasarkan pembacaan Alkitab perjanjian Baru injil Lukas 10:25-37. Sosok orang Samaria yang murah hati dalam injil Lukas, harus diikuti dan dilakukan oleh kita baik pendeta, penatua, syamas dan guru agama.

"Orang Samaria yang murah hati lebih berharga dan bernilai serta berarti dari pada prilaku para imam dan orang lemi. Para imam dan orang lemi punya segalanya, tapi injil Lukas mencatat yang berharga dan berarti serta bermakna adalah orang-orang yang punya kemurahan hati. Nah, GMIM perannya seperti orang Samaria punya kemurahan hati, berkorban untuk orang lain dan rajin beribadah," urainya.

Diakhir perenungannya Pdt Arina menilai theologi dan pendidikan boleh tinggi, tapi tanpa ada kemurahan hati dan mampu melihat orang tanpa digerakkan atau disuruh memberi belas kasihan adalah sifat yang harus dimiliki manusia.

Editor: Siti Nurjanah
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved