Kicauan SBY di Twitter soal 100 Juta Orang Miskin: BPS Tanggapi Balik

Masalah kemiskinan di Indonesia menjadi ramai dibicarakan. Sejumlah elite politik kerap menjadikan isu ini

Kicauan SBY di Twitter soal 100 Juta Orang Miskin: BPS Tanggapi Balik
YOUTUBE
Disebut Beralih ke Prabowo Tanpa Izin, Begini Kata SBY 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA – Masalah kemiskinan di Indonesia menjadi ramai dibicarakan. Sejumlah elite politik kerap menjadikan isu ini sebagai komoditas politik untuk menghajar maupun membela petahana Joko Widodo.

Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY) mengklarifikasi pernyataannya terkait 100 juta angka orang miskin di Indonesia yang sempat menuai pro kontra. Klarifikasi ini disampaikan SBY melalui akun resmi Twitter-nya, @SBYudhoyono, Rabu (1/8/2018).

Sebelumnya, seusai bertemu Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Senin (30/7/2018), SBY mengatakan, orientasi pemerintahan selanjutnya harus fokus pada penyelesaian masalah kemiskinan di Indonesia. Menurut SBY, hal itu disepakati dalam pembicaraan antara dirinya dengan Prabowo.

SBY menyebutkan, dalam pertemuan tersebut diidentifikasi apa saja yang dihadapi rakyat miskin yang menurut dia angkanya mencapai sekitar 100 juta orang.

Menanggapi pernyataan SBY, pemerintah membantah angka orang miskin yang disebut SBY. Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2018 menyebutkan angka orang miskin jauh di bawah 100 juta. Namun, menurut SBY, terkait pernyataannya, harus melihatnya dengan "The bottom 40".

"Banyak yg salah mengerti arti "the bottom 40%", kemudian langsung berikan sanggahan ~ "Tak benar jumlah penduduk miskin 100 juta org" *SBY*," demikian bagian klarifikasi SBY dalam twitnya, Rabu siang.

“Ada pejabat negara yang mengatakan menurut BPS yang miskin hanya sekitar 26 juta. Tentu saya SANGAT MENGERTI angka itu *SBY*,” lanjut dia. SBY menyebutkan, istilah "the bottom 40%" digunakan oleh World Bank Group, yaitu 40 persen penduduk "golongan bawah" di masing-masing negara.

Menurut dia, di negara berkembang yang angka income perkapitanya belum tinggi, mereka termasuk kaum sangat miskin, kaum miskin, dan "di atas miskin" (near poor).

"Ketika saya jadi Ketua HLP PBB (bersama PM Inggris & Presiden Liberia) susun bahan "SDGs", "the bottom 40%" jadi perhatian utama *SBY*," twit SBY. SBY mengatakan, kelompok ini sangat rawan dan mudah terdampak jika ada kemerosotan ekonomi, terutama jika ada kenaikan harga, termasuk sembako.

Dengan melemahnya ekonomi, lanjut SBY, "the bottom 40%" mengalami persoalan. "Ini saya ketahui dari hasil survey & dialog saya dgn ribuan rakyat di puluhan kab/kota *SBY*," kata dia.

Halaman
1234
Editor: Lodie_Tombeg
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved