Polres Bitung Bongkar Jaringan Pengedar Ganja Sintetik, Diantaranya 2 Perempuan

Polres Bitung berhasil bongkar jaringan pengedar ganja sintetik jenis gorila dan trihexphenidyl,

Polres Bitung Bongkar Jaringan Pengedar Ganja Sintetik, Diantaranya 2 Perempuan
ISTIMEWA
Satuan Reserse Narkoba Polres Bitung berhasil bongkar jaringan pengedar ganja sintetik jenis gorila dan trihexphenidyl 

Laporan Wartawan Tribun Manado Alpen Martinus

TRIBUNMANADO.CO.ID - Satuan Reserse Narkoba Polres Bitung berhasil bongkar jaringan pengedar ganja sintetik jenis gorila dan trihexphenidyl.

Kapolres Bitung AKBP Philemon Ginting mengatakan, proses penangkapan dilakukan perlahan, melalui informasi masyarakat maupun dari pengembangan di lapangan.

Penangkapan dilakukan oleh Sat Reserse Narkoba yang dipimpin oleh AKP Frelly Sumampow Kasatres Narkoba.

"Penangkapan dilakukan Jumat kemarin," ujarnya.

Ia menjelaskan, pembongkaran jaringan diawali saat tertangkapnya JA alias Yeyen (20) warga Bitung, di Girian Atas lantaran kepemilikan lima linting tembakau.

Dari hasil pengembangan, tim Sat Res Narkoba mendapatkan tiga nama yaitu BA alias Bella (22), AP alias Apil (21), dan AD alias Pian (23) warga Manado, yang kemudian berhasil ditangkap.

"Menurut Pian, bahwa barang yang mereka jual tersebut didapatkan dari dua orang lain yang kini masih diburu," jelasnya.

Satuan Reserse Narkoba Polres Bitung berhasil bongkar jaringan pengedar ganja sintetik jenis gorila dan trihexphenidyl
Satuan Reserse Narkoba Polres Bitung berhasil bongkar jaringan pengedar ganja sintetik jenis gorila dan trihexphenidyl (ISTIMEWA)

Dari hasil pengembangan juga, Sat Reskrim Narkoba Polres Bitung berhasil mengamankan ratusan butis obat trihexphenidyl yang masuk kategori psikotropika golongan IV dari tangan DR alias David (19), SK alias Yadi (32), dan D (31).

"Mereka diduga merupakan pengedar obat tersebut secara ilegal," jelasnya.

Ia menjelaskan, empat terduga kasus kepemilikan tembakau gorilla tersebut bisa dijerat dengan pasal 114 ayat (1) jo pasal 112 ayat (1) UU RI No 35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat lima tahun dan paling lama 20 tahun serta pidana denda paling banyak Rp 10 miliar.

Sementara untuk tiga tersangka pengedar obat secara ilegal jenis trihexphenidyl bisa dijerat dengan pasal 196 sub pasal 197 UU RI No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan dengan ancaman hukuman pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp 1,5 miliar.

"Mereka sementara periksa, barang bukti obat-obatan tersebut kami sudah amankan, dan kami lakukan pengembangan juga, mungkin masih ada jaringan lain," jelasnya.

Ia juga mengingatkan, dengan ditangkapnya pelaku pengedar ilegal obat-obatan tersebut menjadi tanda awas bagi orang tua.

"Awasi anak anda, jangan sampai menjadi korban peredaran ilegal obat-obatan tersebut, karena kebanyakan targetnya adalah anak muda," jelas dia. (Amg)

Penulis: Alpen_Martinus
Editor: Aldi_Ponge
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved