Penyaluran Kredit Bank Kecil di Separuh Pertama 2018 Masih Lambat

Pertumbuhan kredit bank kecil sampai separuh pertama tahun 2018 tak semanis rata-rata pertumbuhan industri perbankan. Statistik Perbankan

Penyaluran Kredit Bank Kecil di Separuh Pertama 2018 Masih Lambat
Kompas.com
Bank Indonesia 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Pertumbuhan kredit bank kecil sampai separuh pertama tahun 2018 tak semanis rata-rata pertumbuhan industri perbankan.
Statistik Perbankan Indonesia (SPI) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukan, per Mei 2018 pertumbuhan kredit bank umum kelompok usaha (BUKU) I dan II masing-masing hanya tumbuh 8,36% dan 2,8% secara year on year (yoy).

Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata kredit industri perbankan yang meningkat 10,54% secara yoy di Mei 2018.

Lihat saja Bank Dinar yang mencetak penyaluran kredit di semester I 2018 hanya tumbuh tipis 2,27% yoy menjadi Rp 1,35 triliun. Laju penyaluran kredit ini lebih lambat ketimbang penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) yang naik 8,58% yoy menjadi Rp 1,77 triliun.

Direktur Utama Bank Dinar Hendra Lie mengatakan, perlambatan kredit karena permintaan kredit yang cenderung turun. Ini mempengaruhi kinerja di semester I 2018. Terlihat dari laba bersih bank ini yang turun 24,7% yoy menjadi
Rp 5,15 miliar.

Meski begitu, Hendra tetap optimistis sampai dengan akhir tahun ini kredit dapat tumbuh di kisaran 8,5% "Kami fokus pada penyaluran untuk kredit usaha kecil atau UKM," ujar Hendra.

Sementara Bank Banten masih lebih beruntung. Direktur Utama Bank Banten, Fahmi Bagus Mahesa mengatakan, kinerja bank pembangunan daerah ini di separuh pertama 2018 sudah lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Penyaluran kredit Bank Banten meningkat 41,25% yoy menjadi Rp 5,65 triliun per Juni 2018.

Adapun dana pihak ketiga (DPK) tercatat tumbuh 13,72% year to date (ytd) menjadi Rp 6,32 triliun pada kuartal II 2018. Segmen kredit yang akan digenjot tahun ini antara lain kredit komersial, konstruksi APBD dan APBN serta kredit mikro di kawasan Banten.

Namun Fahmi belum membeberkan pencapaian laba di semester I 2018. Sebagai gambaran, per Mei 2018 Bank Banten masih merugi sebesar Rp 52,61 miliar. Angka tersebut turun tipis dibandingkan kerugian Mei 2017 yang sebesar Rp 55,54 miliar.

Kenaikan harga nikel memoles kinerja PT Vale Indonesia Tbk (INCO) pada semester pertama 2018. Berdasarkan laporan keuangan, Rabu (25/7), INCO berhasil meraih laba bersih US$ 29,39 juta. Pada periode yang sama tahun lalu, perseroan merugi US$ 21,48 juta.

Senior Manager of Communication INCO Budi Handoko menyatakan, lonjakan laba terbantu dengan kenaikan harga nikel. Pada semester I-2017, harga nikel hanya US$ 7.858 per ton, sekarang mencapai US$ 10.880 per ton. "Pengaruh harga sangat signifikan. Biaya operasional kami relatif stabil," kata Budi, Rabu (25/7).

Halaman
123
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved