Ekspor Pala Sulut Turun 1.000 Persen: Harga Fuli Anjlok ke Rp 110 Ribu pe Kg

Anomali ekonomi! Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, memukul sektor ekspor Sulawesi Utara. Komoditas pala misalnya

Ekspor Pala Sulut Turun 1.000 Persen: Harga Fuli Anjlok ke Rp 110 Ribu pe Kg
TRIBUNMANADO/JHONLY KALETUANG
Pemanjat Pala 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO – Anomali ekonomi! Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, memukul sektor ekspor Sulawesi Utara. Komoditas pala misalnya, terjadi penurunan nilai 5.676.497 dolar AS atau Rp 79,5 miliar (hampir 1.000 persen) untuk enam bulan terakhir dibandingkan tahun lalu.

Pada tahun 2017, nilai ekpor 12.621.547 dolar dengan volume ekspor 1.679.833 kilogram. Artinya satu semester untuk nilai ekspor 6.310.773 dolar dan volume 839.916 kg. Sementara pada tahun ini, nilai ekspor baru 634.276 dolar dengan volume ekspor 109.568 kg. Bila dibandingkan, terjadi penurunan 9,95 kali atau hampir 1.000 persen.

Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulut, Darwin Muksin, mengatakan, memang ada penurunan permintaan dari importir pala.
Data ekspor pala hingga Juni 2018 mencapai 634.276 dolar dengan volume 109.568 kg. Jika dirupiahkan dengan kurs Rp 14.000, berarti hanya meraup Rp 8,8 miliar.

Pada tahun lalu ekspor mencakup sembilan negara, namun hingga Juni tahun ini hanya diekpor ke Italia, India, Vietnam, Belanda dan Jerman. "Tapi masih ada enam bulan lagi. Kami optimistis pencapaian kurang lebih sama dengan tahun lalu, ada di kisaran itu," ujar Darwin ketika diwawancarai tribunmanado.co.id, Kamis (26/7/2018).

Lanjut dia, biasanya para buyer dan supplier sudah punya kontrak, sehingga pembelian itu sudah dilakukan secara kontinyu. Adapun tiga jenis produk pala yang masih diminati, yakni daging buah kering, bunga dan biji. Biji pala masih yang terbesar untuk volume ekspornya 82.250 kg dengan nilai ekspor 530.710 dolar (lihat grafis).

Produk pertanian pala masih jadi primadona ekspor. Menurut Darwin, ekspor pala tahun 2017 mencapai angka 12 juta dolar. Jika dengan kurs dolar Rp 14.000 sekarang maka nilai ekspor mencapai Rp 168 miliar.

Adapun tujuan ekspor produk pala merambah negara Belanda, Italia, Vietnam, Jerman, Jepang, Amerika Serikat, Spanyol, Argentina, dan Korea.

Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) sebagai sentra produksi pala di Sulut. Diperkirakan 80 persen warga Pulau Siau menggantungkan hidup sebagai petani pala. Bahkan, pala menjadi ikon serta identitas Sitaro. Pemerintah Kabupaten Sitaro telah mendirikan monumen pala di seputaran kantor pemerintah.

Sayang harga komoditas andalan warga ini anjlok. Harga biji pala saat ini Rp 55 ribu per kg di petani. Olden Serang, petani pala, mengaku, sudah berkebun pala sejak turun temurun.

Ia membangun rumah dan menyekolahkan anak dari hasil pala. "Tiga anak sudah dapat disekolahkan ke perguruan tinggi," katanya kepada tribunmanado.co.id, Kamis (26/7/2018).

Halaman
1234
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help