FIFA World Cup Rusia 2018

Asyiknya Makan Siang Bersama Pak Dubes

Selasa (17/7) adalah hari terakhir saya di Moskow, Rusia. Sebelum pulang ke tanah air, saya ingin menyempatkan diri membeli

Asyiknya Makan Siang Bersama Pak Dubes
tribun manado
Dubes RI untuk Rusia M Wahid Supriyadi 

Laporan wartawan Tribun Deodatus Pradipto dari Moskow

TRIBUNMANADO.CO.ID, MOSKOW - Piala Dusia Rusia 2018 telah usai. Selasa (17/7) adalah hari terakhir saya di Moskow, Rusia. Sebelum pulang ke tanah air, saya ingin menyempatkan diri membeli buah tangan untuk teman-teman. Namanya juga orang Indonesia.

Saya mendapat informasi dari Sekretaris I Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia dan Belarusia Enjay Diana ada sebuah toko di dekat KBRI Moskow yang menjual oleh-oleh khas Rusia dan harganya bersahabat. Setelah mendapat informasi ini saya segera menuju KBRI.

Saat bersiap-siap saya mendapat Enjay Diana bilang dia telah memberitahu Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia dan Belarusia M Wahid Supriyadi soal rencana kunjungan saya.
"Nanti kita ngopi-ngopi siang sama Pak Dubes, ya," ujar Enjay.

Tak sampai 30 menit saya tiba di KBRI Moskow. Setelah bertemu Enjay, saya diantar ke ruang kerja Dubes RI M Wahid Supriyadi. Setelah bersalaman, saya dipersilakan duduk di sofa kulit di ruang kerjanya yang luas.

Saat baru memulai pembicaraan, seorang local staff perempuan bertanya kepada saya ingin minum kopi atau teh. Saya jawab teh, namun Wahid memberikan tawaran lain.

"Jahe saja. Saya punya jahe pakai gula jawa. Enak itu," kata Wahid yang kemudian saya iyakan.
Kami mulai berbincang-bincang soal Rusia dan tugas peliputan Piala Dunia 2018 yang saya jalankan selama sebulan ini. Wahid kemudian bercerita soal seperti apa Rusia yang sebenarnya.

"Orang bilang Rusia itu komunis, tapi silakan lihat sendiri, mana simbol-simbol komunisnya? Kalau ada, itu hanya ada di bangunan-bangunan tua karena Rusia melestarikan bangunan tua," ujar Wahid.

Wahid bercerita banyak soal kehidupannya di luar duta besar. Dia bercerita soal asal, latar belakang pendidikan, dan profesinya sebelum menjadi seorang diplomat.
"Saya dulu pernah mengajar di sekolah," tutur lulusan Sastra Inggris Universitas Gajah Mada ini.

Tak terasa waktu berbincang kami sudah setengah jam sampai pukul 12.00. Kami kemudian bergerak ke luar ruangan untuk makan siang di luar KBRI Moskow. Kami berempat, saya, Wahid Supriyadi, Enjay Diana, dan Minister Counsellor Adiguna Wijaya menumpang sebuah minibus premium pabrikan asal Jepang ke sebuah kawasan tidak jauh dari KBRI.
Kami santap siang di sebuah restoran Asia. Lokasinya di belakang KBRI, lima menit berjalan kaki.

Sambil santap siang, Wahid Supriyadi bercerita soal hubungan Indonesia dan Rusia. Satu hal yang terkait adalah ekspor Indonesia ke Rusia. Saya bertanya apa ekspor terbesar Indonesia ke Rusia.
"Anda pasti kaget, mesin dan alat-alat laboratorium, Itu mesin untuk industri kosmetik, dirakit di sini oleh insinyur-insinyur dari Indonesia," ujar Wahid.

Data yang saya terima dari KBRI Moskow nilai ekspor mesin Indonesia ke Rusia mencapai 704.021 ribu dollar Amerika Serikat, setara Rp 10,12 miliar. Di urutan kedua ekspor terbesar Rusia dari Indonesia adalah minyak kelapa sawit yang nilainya mencapai 551.476 ribu dollar AS.
Pada periode 2016-2017 terdapat peningkatan ekspor Indonesia ke Rusia. Produk yang mengalami peningkatan paling signifikan adalah mebel.

Peningkatan dari 2016 ke 2017 mencapai 185 persen. Produk kedua adalah tembakau dan manufaktur pengganti tembakau yang mencapai 164 persen.
Industri pariwisata juga terkena dampak positif dari bagusnya hubungan Indonesia dengan Rusia. Pada Desember 2017 terjadi peningkatan jumlah wisatawan asal Rusia ke Indonesia. Persentase peningkatannya mencapai 37,28 persen, yaitu 110.529 wisatawan.

M Wahid Supriyadi kemudian memaparkan hal-hal yang harus Indonesia contoh dari Rusia. Satu hal yang layak dicontoh adalah teknologi. "Kita tertinggal di bidang teknologi. Antara universitas dan industri ada hubungan yang bagus. Misalnya fakultas pertanian membikin alat-alat industri untuk pertanian," ujar pria asal Kebumen, Jawa Tengah itu. *

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help